Dengan pangkalan data yang begitu besar, Pratama melihat Gojek sebenarnya bisa melakukan sosialisasi yang lebih baik kepada pelanggannya. Terutama masalah yang dihadapi di sini adalah penipuan dengan tujuan mencuri saldo Gopay.
"Bisa (dengan) bikin broadcast lewat database yang mereka punya bahwa ada penipuan ini-itu dan Gojek tidak melakukan itu," kata Pratama lewat sambungan telepon, Jumat (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya bukan masalah vulnerability security ya."
Pentingya Literasi
Sularsi, Koordinator Bidang Pengaduan dari Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI), setuju dengan pernyataan minimnya literasi dari Gojek dan perusahaan sejenisnya. Ia menilai saat ini belum ada rasa keamanan yang perusahaan tersebut berikan kepada pelanggan.
"Di bank ada mekanismenya, aplikasi harus punya mekanisme serupa."
Ketika rasa keamanan diberikan oleh penyedia jasa, Sularsi mendorong konsumen untuk mempertanyakan tanggung jawab perusahaan. Jika terus terjadi, ia menegaskan konsumen bisa melayangkan gugatan.
"Asal punya buktinya, kita bisa menggugat secara perdata atau pidana," tukas Sularsi. (eks)