Hal itu yang diungkapkan oleh Vice President of Network Solution Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, kepada awak media. Menurut Ronni, kekhawatiran itu terlebih dirasakan oleh generasi milenial yang kesehariannya selalu terhubung dengan akses internet.
"(Generasi) milenial berharap 5G membuat baterai perangkat mereka jadi lebih awet. Mereka juga ingin keamanan data pribadi lebih terjaga dengan teknologi 5G," kata dia, di sela-sela diskusi media, di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Senin (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei yang dilakukan oleh Ericsson ConsumerLabs terhadap pengguna internet berusia 15-34 tahun di 10 kota di dunia juga mencatat sekitar 17 persen responden berharap kecepatan akses jaringan 5G lebih bisa diandalkan ketimbang teknologi internet sebelumnya. Sebanyak 4 persen responden juga tak menginginkan adanya latensi atau respon lambat.
Kecepatan akses data yang mumpuni diharapkan membuat milenial kerap terhubung dengan internet melalui perangkat internet of things. Pada intinya, generasi milenial ingin kualitas internet mereka terjamin.
Di sisi lain, responden tetap berharap jaringan 5G tidak lantas membuat harga jualnya ikut melesat cepat. Sebanyak 17 persen milenial berharap harga paket internet 5G lebih murah ketimbang 3G/4G.
Teknologi 5G sendiri rencananya baru akan diujicoba di gelaran Olimpiade di Jepang pada tahun 2020. Indonesia rencanya baru akan kedatangan teknologi ini pada 2021.
Ericsson juga mencatat pergeseran penggunaan paket data dari yang awalnya kecil menjadi lebih besar. Hal ini karena besarnya kontribusi streaming video, sosial media, dan browsing. Harapan milenial di atas ditujukan untuk para operator di seluruh dunia untuk diwujudkan. (evn/arh)