Spesifikasi awal ini sengaja dikeluarkan akhir tahun ini dalam pertemuan yang digelar di Lisbon, Portugal. Nantinya, 3GPP akan mengeluarkan lagi spesifikasi lanjutan untuk versi Standalone (SA) akan dikeluarkan pada pertengahan 2018.
Resminya standarisasi ini menjadi hal penting untuk komersialisasi jaringan 5G. Sebab, standarisasi ini memberikan kepastian hal apa saja yang harus dibangun oleh perusahaan penyedia perangkat jaringan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Selesaikan Perkara 4G Demi Adopsi 5G |
“Ini benar-benar langkah yang memungkinkan vendor mulai membangun peralatan, " kata Matt Branda, director of technical marketing at Qualcomm kepada Fierce Wireless Tech, pekan lalu (21/12).
Sementara itu, versi Standalone (SA) dijadwalkan selesai pada Juni 2018. Standar SA ini digunakan sebagai rujukan untuk menentukan kemampuan dan kontrol penuh pesawat pengguna untuk jaringan 5G NR.
Arsitektur jaringan inti 5G yang baru juga tengah dikerjakan oleh 3GPP. Versi NSA dan SA berbagi aspek antarmuka udara radio fisik.
Penerapan 5G di Indonesia, diperkirakan baru terjadi pada 2021. Vice President of Network Solution Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, memperkirakan 5G berpotensi menambah pendapatan operator sebesar 30 persen, atau sekitar US$6 miliar (sekitar Rp81,5 triliun).
Ada lima sektor yang bakal banyak menyumbang pendapatan dari penerapan 5G. Lima sektor itu adalah manufaktur (US$1,1 miliar), energi dan utilitas (US$1 miliar), keamanan publik (US$0,8 miliar), kesehatan (US$0,7 miliar), dan transportasi publik (US$0,7 miliar). (eks)