"Saya pikir Xiaomi, mereka punya kecepatan yang bagus untuk menembus pasar," ucap Galip Fu, Marketing Manager Asus Indonesia, kepada CNNIndonesia.com di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/1).
Selain kemampuannya menembus pasar, Galip melihat produk buatan Xiaomi punya bekal yang berbahaya yakni kombinasi antara spesifikasi yang cukup tinggi dengan harga yang terjangkau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara spesifikasi, Galip memberi indikasi bahwa produk mereka berikutnya akan tampil lebih sederhana namun lebih bertenaga dengan daya baterai yang besar.
Daya baterai menjadi penting menurut Galip karena semua kinerja ponsel akan menjadi sia-sia tanpa dukungan daya baterai yang kuat. Sementara spesifikasi yang juga bakal jadi fokus di model ZenFone berikutnya adalah prosesor dan kamera selfie.
"Pokoknya di 2018 investasi kami akan lebih banyak ke performa," imbuh Galip.
Asus yang sebelumnya menghuni posisi ketiga dengan pangsa pasar 11 persen di Q1 lalu, turun menjadi 7 persen di Q2 2017, di kuartal berikutnya harus terdepak dari daftar lima besar.
Berbanding terbalik dengan Asus, kompetitor yang disebut oleh Galip benar-benar menjadi ancaman karena berhasil menyalip mereka di daftar pemasok ponsel terbesar. Xiaomi misalnya kembali menempati posisi kelima di catatan Q3 2017 dengan porsi pasokan 3 persen di pasar. Sementara Vivo berhasil menyusup ke peringkat keempat dengan 8 persen dan Oppo di posisi kedua pasar dengan 25 persen. (evn)