Marcia Sun, SEA Regional of Infinix Mobile, mengakui bahwa Xiaomi adalah rival terkuat perusahaan yang dipimpinnya. Namun, Infinix ingin belajar dari kesuksesan Xiaomi.
“Kompetitor secara global yang terkuat bagi kami adalah Xiaomi. Tapi sejujurnya kami tidak melihatnya (Xiaomi) sebagai kompetitor, kami belajar dari mereka,” kata Sun pada CNNIndonesia.com usai peluncuran Infinix Zero 5, Kamis (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Incar pasar menengah
"Produk kami itu middle-high karena produk kami di sektor itu lebih bersahabat harganya dibandingkan merk lainnya,” ujarnya.
Meski mengklaim produknya sebagai produk menengah atas, namun dengan kisaran harga produk Rp1-3 juta produk Infinix sebenarnya adalah produk kelas early-adopter dan menengah. Ini berdasarkan pembagian kategori ponsel versi IDC.
Selain itu, Infinix juga mengumumkan telah menggandeng pabrik baru yang berlokasi di Jakarta untuk mengantisipasi kehabisan produk. Sebab, Sun menyebut permintaan produk Infinix sangat tinggi walaupun tak banyak model yang dirilisnya.
“Pabrik kami sebelumnya sudah bekerjasama dengan Satnusa di Batam, karena demand sangat tinggi terhadap Infinix, sekarang kita akan menambah satu pabrik lagi yakni Telesindo, mereka juga pabrik yang memproduksi LG, BlackBerry. Pabrik kedua ini ada di Jakarta, dan akan mulai beroperasi di bulan depan,” lanjutnya.
Kapasitas pabrik Telesindo sendiri diterangkan Sun sebesar 400 ribu unit per bulan. Namun itu tergantung pada permintaan yang ada dan berubah-ubah.
“Xiaomi merupakan merk yang sangat baik. Xiaomi punya supply chain yang besar dan harga produknya cukup murah. Sedangkan kami memulai dari awal,” aku Sun.
Sementara itu, Infinix tahun ini baru menargetkan 3 persen pangsa pasar di Indonesia. Meski demikian, ia tidak mau menyebut berapa pangsa pasarnya saat ini. (eks)