Pada awal Desember 2017, Amazon sudah resmi membuka layanannya di Australia. Mundur hampir enam bulan sebelumnya, Amazon sudah membuka layanan Prime Now di Singapura, pertama kalinya mereka menjejakkan kaki di kawasan Asia Tenggara.
Content Marketing Lead iPrice, Andrew Prasatya, mengatakan situasi Indonesia saat ini seperti sudah dijepit Amazon. Dengan statusnya yang sudah demikian besar, nama Amazon kerap disebut membuat khawatir para pelaku industri e-commerce lokal. Namun, dia juga berpikir sebaliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan mengetahui keadaan itu, menurut Andrew, e-commerce lokal akan memperbaiki layanannya lebih baik lagi, yang mana berdampak positif pula ke konsumen.
Cara Masuk ke Indonesia
Andrew melihat ada kemungkinan Amazon masuk ke Indonesia yakni dengan menggandeng e-commerce lokal atau 'menerobos' sendirian. Cara pertama dipraktikkan Alibaba asal China saat masuk ke Indonesia dengan mengakuisisi Lazada dan memimpin pendanaan ke Tokopedia yang nilainya mencapai US$1,1 miliar pada Agustus 2017.
"Tapi balik lagi, market AS dengan Indonesia totally different. Jadi dua hal berbeda. Pola belanja, pola pikir, kesiapan mereka untuk payment. Masih banyak hole yang masih banyak diperbaiki sebelum Amazon masuk," imbuhnya.
Sementara itu, analis senior dari perusahaan ventura East Ventures, Elisa Suteja, meyakini kedatangan Amazon tak akan berarti 'kiamat' bagi pelaku e-commerce lokal. Hanya saja, Elisa mewanti-wanti pelaku industri e-commerce Indonesia menghindari bentuk perusahaan seperti Amazon.
"Niche e-commerce kan lebih menarik," kata Elisa. (asa)