Untuk mewujudkan rencana itu, LAPAN akan bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) yang memberikan pelayanan baik pada pemerintah, swasta maupun masyarakat.
"Secara umum ini bekerja sama dengan BIG ingin menyediakan peta berbasis citra satelit yang mirip-mirip Google maps," katanya di kesempatan yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk pengukuran dan pengambilan kebijakan kan harus betul-betul terukur dan terkoreksi. Nah, data yang disediakan oleh LAPAN adalah data yang terkoreksi yang kemudian nanti dengan metodologi dipunyai BIG membuat citra tegak. Dari sana, tentu kita bisa menyediakan peta Indonesia itu secara detail dengan kualitas lebih baik dari Google," terang Djamal.
"Kami kira nilai manfaatnya akan menjadi lebih besar ketika dirasakan oleh lebih banyak orang. Dan saya kira bisa. [...] Itu nanti bisa untuk menggantikan Google maps. Kita bisa bikin maps yang bisa menunjukkan alamat, mungkin ada suara juga," ujarnya saat ditemui di kawasan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (30/1).
"Kami di komisi VII tinggal mendorong saja selama kemampuan anggaran menunjang dan ada tahapan-tahapan untuk mencapai ke sana. Kami pun terakhir dengan Menristek sudah membicarakan bagaimana menaikkan kemampuan anggaran di lembaga kementerian/non kementerian agar mendukung peningkatan dan penguasaan teknologi," ujarnya.
Djamal menegaskan peta tersebut saat ini sudah dalam proses pembuatan. Targetnya, peta ini rampung sebelum memasuki tahun 2019. "Sudah dalam proses. Sistemnya sudah dibangun oleh BIG dan LAPAN. Lebih cepat, ditargetkan sebelum 2019," tutupnya. (evn)