'Surya, Angin, dan Air yang Bantu Kebutuhan Listrik Sumba'

Feri Agus, CNN Indonesia | Kamis, 01/02/2018 10:24 WIB
'Surya, Angin, dan Air yang Bantu Kebutuhan Listrik Sumba' Dua siswa SD Inpres Laikarenga sedang memasang lentera di tempat pengisian baterai. Setiap siswa membayar Rp1.500 sekali mengecas, Senin (29/1). (CNNIndonesia/Feri Agus)
Sumba, NTT, CNN Indonesia -- Pemerintah Indonesia memiliki target porsi energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi listrik bisa mencapai 23 persen pada 2025. Namun, hingga akhir 2017, porsi EBT baru mencapai 12,15 persen, dengan kontribusi tenaga air yang mendominasi lebih dari separuh capaian tersebut. Artinya, tinggal tersisa setidaknya tujuh tahun berjalan lagi untuk memenuhi target yang tersisa.

Untuk memberikan pengalaman dan membantu warga akan kebutuhan listrik, kemitraan lembaga Indonesia dan luar negeri membangun contoh pembentukan pembangkit listik EBT di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pembentukan ekosistem tersebut merupakan bagian dari proyek 'Terang' yang dilakukan organisasi asal Belanda, Hivos dibantu pendanaan hibah dari program Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-I) dan berbagai mitra.



Koordinator Program Pulau Ikonik Sumba Hivos, Dedy J Haning mengatakan, di sana memiliki potensi EBT yang cukup besar dari mulai tenaga matahari, angin, hingga air. Dedy menyebut, pembangkit listrik tenaga angin atau bayu dan tenaga air di Sumba memiliki potensi 10 megawatt.

"Kami punya dua spot untuk skala besar di atas 10 megawatt," kata Dedy di Waingapu, Sumba Timur, Rabu (31/1).

Pembangkit listrik tenaga bayu dengan potensi 10 megawatt berada di daerah Hambapraing, Sumba Timur, sementara pembangkit listrik tenaga air memiliki potensi 8,5 megawatt, yang ada di 16 titik di Sumba.

"Kalau dua ini diimplementasikan di Sumba, sudah mengatasi listrik di jaringan PLN (di Pulau Sumba)," tuturnya.

Menurut Dedy, untuk saat ini jaringan PLN di Sumba Timur dan Barat belum tersambung, lantaran berbeda gardu. Pemerintah menargetkan pada 2019 jaringan PLN di Pulau Sumba akan menjadi satu. Hal itu juga akan memudahkan distribusi listrik.

Dedy melanjutkan, untuk pembangkit listrik tenaga surya masih dalam skala kecil dikembangkan di Sumba, terutama untuk kebutuhan masyarakat, pendidikan, dan pertanian. Untuk program percontohan EBT di Sumba, kata Dedy, Hivos membentuk Renewable Energy Service Center Organization (RESCO) sebagai penggarapnya

"Saat ini, proyeknya memang skala kecil, kalau enggak salah definisi skala menengah di Indonesia di atas 5 megawatt. Kita punyanya (pembangkit listrik tenaga surya) di bawah itu semua," ujarnya.

'Surya, Angin, dan Air yang Bantu Kebutuhan Listrik Sumba'Petugas RESCO sedang membersihkan panel surya yang terpasang di SD Inpres Laikarenga, Desa Kodi Utara, Sumba Barat Daya, Senin (29/1). (CNN Indonesia/Feri Agus)


Sumba Barat Daya Hingga Sumba Timur

CNNIndonesia.com berkesempatan melihat langsung program Hivos yang dikerjakan RESCO di sejumlah daerah, baik di Sumba Barat Daya sampai Sumba Timur. Program tersebut yakni pemasangan panel surya serta pembagian lampu atau lentera.

Beberapa yang disambangi adalah Kios Energi Nicolaus Dao dan Margaretha Katida, di Desa Delo, Kecamatan Wewea Selatan, SD Inpres Laikarenga, Kodi Utara, Sumba Barat Daya.

Kemudian mitra penggilingan padi milik Umbu Lakinuga, di Desa Baliloku, Wanakaka, Sumba Barat, rumah biogas milik Jhon Lukas Ludji, di Waingapu dan pembangkit listrik tenaga air milik Umbu Hinggu Panjanji, di Kamanggi, Sumba Timur.

Untuk Penggilingan padi dan jagung sudah terpasang instalasi panel surya sebanyak 22 lokasi. Untuk Kios Energi saat ini sudah berdiri 30 buah, yang tersebar di seluruh Sumba. Sementara untuk SD sudah terpasang 30 yang juga tersebar di Sumba.

Kepala SD Inpres Laikarenga, Karolina Konga Naha mengatakan telah bekerja sama dengan RESCO, memasang panel surya sejak Maret 2017. Hingga saat ini, sekolah telah menyebarkan 240 lampu kepada para siswa.

Karolina mengatakan para siswa dikenakan tarif Rp1500 sekali mengecas lentera. Mereka datang membawa lentera untuk dicas dua sampai tiga hari sekali. Karolina mengaku sangat terbantu dengan program RESCO, terutama untuk operasional sekolah.

'Surya, Angin, dan Air yang Bantu Kebutuhan Listrik Sumba'Kepala Sekolah Dasar Inpres Laikarenga, Karolina Konga Naha mengaku terbantu dengan adanya program RESCO, Sumba, NTT, Senin (29/1). (CNN Indonesia/Feri Agus)

Sebelum ada panel surya dari RESCO, kata Karolina, operasional sekolah kerap terhambat, terutama urusan administrasi yang menggunakan komputer atau laptop.

Sementara itu, Umbu Lakinuga, pemilik gilingan padi bertenaga surya menyatakan baru menjadi mitra pada Agustus 2017. Dari mesin penggilingan padi itu, Lakinuga mengaku mendapat tambahan penghasilan dari para tetangganya yang ingin menggiling gabahnya.

Bahkan, dia menyebut, setelah sebulan mesin beroperasi, dirinya berhasil membeli anak babi.

"Mesin giling padi pakai tenaga surya. Mulai di bulan Agustus 2017. September saya sudah bisa buat beli babi," tuturnya.

Dedy mengatakan proyek TERANG ini memiliki tujuan utama memperkenalkan konsep pemanfaatan listrik hemat energi agar pemerintah bisa menerapkannya di wilayah lain.

"Jadi [agar] tidak eksklusif di Sumba saja, dibagi ke provinsi yang lain melalui Kementerian ESDM," kata dia.

'Surya, Angin, dan Air yang Bantu Kebutuhan Listrik Sumba'Mesin penggiling padi milik Umbu Lakinuga di Desa Baliloku, Wanakaka, Sumba Barat, Senin (29/1). (CNNIndonesia/Feri Agus)

Dampak Sosial

Dedy melanjutkan, pihaknya agak kesulitan melakukan on grid atau mengoneksikan jaringan dengan PT PLN. Menurut dia, selama inin PLN justru ingin membeli energi listrik yang dihasilkan dari pembangkit tenaga bayu maupun air yang dibangun pihaknya dengan harga murah.

Dedy menyebut, salah satu contoh gagalnya negosiasi itu terjadi pada pembangkit listrik tenaga bayu berkapasitas 10 megawatt.

"Kalau PLN membeli di bawah 85 persen, intinya PLN mau beli murah. Biasanya negosiasi di situ, perizinan mudah, pemerintah on board, ketika negosiasi sama PLN akan alot," ujarnya.

Menurut Dedy, kemauan PLN membeli dengan harga murah, membuat investor keberatan lantaran ada jarak yang cukup besar dari harga yang ditawarkan. Hivos, kata dia salah satu tugasnya yaitu mencari dana hibah untuk menutupi jarak tersebut.

"Paling gampang dana hibah dari negara lain, mereka kan tidak mengharapkan kembali dalam bentuk uang, mereka harapkan social impact," tutur Dedy.

"Karena Hivos NGO, tugasnya social impact, kita bisa mengukur itu. Ada perannya sendiri dalam satu proyek. Biasanya sudah dapat dana hibah bisa langsung (berjalan)," kata dia menambahkan. (kid/kid)


ARTIKEL TERKAIT