"Bisa jadi ke bisnis transportasi lagi karena yang menyuntikkan dana korporasi transportasi... Bisnis ojek masih moncer, karena di daerah layanan transportasi umum kian buruk," kata Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/2).
Hal ini diungkap Djoko menyusul pengumuman PT Astra International (Astra) yang telah menyuntikkan investasi sebesar US$150 juta atau sekitar RP2 triliun untuk Gojek. Astra menyusul banyak perusahaan raksasa, seperti Google, yang dilaporkan telah menginvestasikan dananya.
Lihat juga:Astra Suntik Dana Rp2 Triliun ke Gojek |
Transportasi daerah buruk
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"[Ekspansi ke] daerah yang layanan transportasi umum buruk dan itu sangat banyak di Indonesia. Bahkan, banyak kota juga yang tidak punya angkutan umum. 99 persen buruk, " kata dia.
Dia menilai bisnis transportasi masih memiliki peluang yang besar selama pemerintah kota tidak serius mengerjakan perbaikan angkutan umumnya.
"Gojek mendapat kesempatan jadi substitusi layanan angkutan umum yang tidak diminati masyarakat. Ini PR pemkot tetapi sepertinya mereka kurang serius dalam pengerjaannya," terang Tori saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (12/2).
Lihat juga:Saham Astra Mendaki Usai Gaet Gojek |
Hal ini membuat Tori menilai bahwa bisnis Gojek dkk menjadi lahan yang masif dan "tidak berwasit". Sepeda motor tidak bisa dijadikan angkutan umum namun memiliki permintaan yang besar karena angkutan umum tidak ada.
"Paling gampang memang kalau mau masif masuknya melalui sektor transportasi ojek online ini karena tidak ada hukum yang mengatur ini. Jadi tidak ada wasitnya," tutur Tori. (eks)