Penelitian yang sudah dilakukan selama hampir 14 tahun tersebut diharapkan akan menghasilkan teknologi untuk peningkatan produksi rumput laut. Apalagi, rumput laut adalah salah satu program unggulan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi NTB.
"Dari hasil penelitian keanekaragaman rumput laut cukup banyak mencapai 88 spesies. Semuanya di perairan laut NTB," kata Guru Besar Universitas Mataram (Unram) Prof Sunarpi, di Mataram, Minggu (18/2), seperti dilansir dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rumput laut ada yang dibudidayakan, dan ada yang hidup di perairan bebas yang tidak ada kepemilikannya. Jadi kami juga meneliti seperti apa kebijakan pemerintah tentang penggunaan ruang perairan untuk komoditas rumput laut," ujarnya.
Penelitian terus dilakukan dengan pendanaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dengan skim kompetitif. Penelitian yang dilakukan bersama beberapa anggota kelompok peneliti tidak hanya di lapangan, namun juga di laboratorium.
Selama ini, kata Sunarpi, jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat pesisir, yakni 'eucheuma cottonii'. Jenis ini merupakan rumput laut yang paling banyak dibudidayakan di wilayah perairan laut Indonesia, salah satunya NTB.
Rumput laut jenis lainnya adalah 'eucheuma spinosum'. Jenis ini juga menghasilkan 'karagenan', seperti 'eucheuma cottonii'. Selain itu, rumput laut 'gracilaria spp' yang banyak dibudidayakan dengan memanfaatkan tambah di pinggir pantai.
"Dari 88 spesies rumput laut yang sudah kami koleksi, ada tiga jenis yang sudah biasa dibudidayakan. Kami coba meneliti lagi apa ada spesies lain yang bisa dibudidayakan secara massal dan seperti apa teknologinya," kata Sunarpi yang mengaku ingin fokus meneliti rumput laut setelah tidak lagi menjadi rektor. (rah)