Transjakarta Siap Menggelontorkan Bus Listrik

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 19/02/2018 07:32 WIB
Transjakarta Siap Menggelontorkan Bus Listrik Pabrik karoseri Transjakarta di Kudus, Jawa Tengah. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Kudus, CNN Indonesia -- Fenomena bus listrik Moeldoko mendapat perhatian dari Transjakarta. Penyedia transportasi massal di Jakarta itu bahkan berminat untuk menjadikan bus listrik sebagai armada baru Transjakarta.

Direktur Utama Transjakarta Budi Kaliwono mengatakan bahwa pihaknya bersedia beralih dari bus konvensional ke bus bertenaga listrik. Namun dengan syarat harus ditunjang dengan kesiapan infrastruktur pendukung kendaraan listrik di kota-kota besar khususnya DKI Jakarta.

"Coba saja bangun dulu pembuatan charge (bus listrik), kami akan ikut," kata Budi di Kudus, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.
Menurut Budi jika sudah tersedia titik stasiun penyedia listrik umum (SPLU) saja ternyata tidak cukup. Harapannya, SPLU tersebut mengantongi sertifikasi standar internasional. Dijelaskan Budi jika tidak demikian proses pengisian ulang daya listrik tentunya akan menghabiskan waktu.


"Karena kalau teknologi lama itu ngisi bisa empat sampai lima jam sekali ngisi. Kan ini tergantung teknologinya," ujar Budi.

Sejauh ini, Perusahaan Listrik Negara ( PLN) secara bertahap mulai memperbanyak stasiun penyedia listrik umum (SPLU) di DKI Jakarta. Klaim PLN sudah terpasang sekitar 700 SPLU yang tersebar di berbagai wilayah.
Terkait kapan merealisasikan armada Transjakarta bertenaga listrik, Budi enggan memastikannya. Sebab, hingga kini Ia belum melihat kesiapan pemerintah untuk membuat infrastruktur lebih luas lagi jangkauannya.

"Karena kami belum dengar jaringan listrik siap kapan. Tapi kami minat kalau jaringan ada. Kembali lagi kalau listrik itu bukan hanya bus, jadi jaringannya," tegas Budi.

Sementara itu Direktur Teknis dan Fasilitas Transjakarta Wijanarko berpendapat paling memungkinkan bagi Indonesia menghijaukan moda transportasinya ialah dengan bus hybrid.
Seperti di negara-negara Eropa, Ia mengatakan bus yang dipakai merupakan kombinasi antara mesin diesel dan listrik.

"Paling memungkikan hybrid, di Eropa juga begitu, kombinasi antara diesel dan elektrik. Saat bus berjalan dan berhenti ketika macet, otomatis baterai akan mengisi sendiri. Jadi tetap dua penggerak motor listrik dan mesin," tutup Wijanarko. (mik)