Di sisi lain, pihaknya mengaku tidak menemukan adanya tanda-tanda kematian badak di semenanjung Ujung Kulon. Padahal Mamat menyebut sekitar 50 persen dari kamera trap yang dipakai masih adalam kondisi bagus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2) Wira (ID:067.2015), habitat di Wilayah Cugeunteur
3) Ratu (ID:035.2011), habitat di Cikeusik
4) Satria (ID:064.2015), habitat di Cikeusik
5) Srikandi (ID:039.2012), habitat hidup di Citadahan-Cibunar
6) Sari (ID:046.2012) betina dewasa sudah 2 tahun berturut turut tidak terekam di wilayah pergerakan Cikeusik
7) Tiara (ID:049.2012), wilayah pergerakan di Cigeuntuer
8) Rimbani (ID:051.2012), daerah pergerakan Cikeusik
9) Melati (ID:060.2013), pergerakan di wilayah Rorah Bogo
10) Ratih (ID:024.2011), wilayah hidup di Citadahan.
"Kemungkinan, dari sepuluh individu badak tersebut berpindah jalur, sehingga berada diluar jangkauan pengamatan kamera," kata Mamat Rahmat, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), saat menyampaikan hasil monitoring badak bercula satu di Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (26/02).
"Masih ditemukannya clip video anak badak jawa dalam jumlah yang relatif besar, menunjukan bahwa populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon masih mengalami perkembangbiakan alami dengan baik," jelasnya.
Lihat juga:Landak Irian yang Terancam Punah |
Dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) mengategorikan badak bercula satu sebagai hewan yang dikhawatirkan akan punah karena jumlahnya yang terus menyusut di alam.
Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar, badak Jawa juga diklasifikasikan sebagai jenis satwa yang dilindungi. (yan/evn)