Peneliti menggunakan Teleskop Hubble untuk membuat pengukuran yang tepat soal kecepatan pengembangan semesta. Bagaimanapun, observasi studi baru ini tidak cocok dengan prediksi mengembangnya semesta berdasarkan Teori Big Bang, berdasarkan p-ernyataan dari Space Telescope Science Institute (STScI).
"Komunitas tengah berdebat soal bagaimana perbedaan ini terjadi," jelas Adam Riess, peraih Nobel dan peneliti utama dalam penelitian yang menemukan fakta ini. Riess sendiri adalah astronom di STScI dan profesor di Johns Hopkins University.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan temuan terbaru, delapan variabel Cepheid seppuluh kali lebih jauh dari sebelumnya. Cepheid ini menantang untuk diukur karena masing-masing berjarak 6.000-12.000 tahun cahaya dari Bumi.
Data ini kemudian dibandingkan dengan data dari Agensi Luar Angkasa Eropa, satelit Planck.Pengukuran satelit itu menunjukkan perhitungan yang 9 persen lebih rendah dari perhitungan Hubble.
Lihat juga:Berburu Fenomena Langit dalam Trip Astronomi |
"keduanya telah dites berulang kali, jadi kecuali ada rangkaian kesalahan yang tidak terkait, kemungkinan besar ini bukan karena salah perhitungan tapi (memang) fitur (dari) alam semesta, "kata Riess, seperti dikutip Space.
Satu hal yang dicurigai adalah adanya energi hitam. Kekuatan asing yang diketahui bergerak untuk akselerasi kosmos. Kekuatan ini pula yang mendorong galaksi makin bergerak menjauh dengan intensitas yang tinggi. Akeslerasi ini mungkin tidak punya nilai yang tepat, tapi memang berubah dari waktu ke waktu. (eks)