Schultz mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara dengan Fox Business. Dia menjelaskan bahwa penggunaan mata uang kripto (cryptocurrency) memang bisa mengawal aplikasi pembayaran.
Schultz mengatakan bahwa perusahaan 'mungkin' akan bergerak ke arah teknologi tersebut meski bertentangan dengan sistem ekonomi terpusat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya teknologi blockchain mungkin ada dalam aplikasi terpadu di Starbucks yang akan digunakan," komentarnya.
Komentar ini keluar setelah hampir sebulan lalu. Saat itu, Schultz mengatakan bahwa perusahaan akan menggunakan blockchain sebagai pembayaran namun menolak bitcoin sebagai mata uangnya.
Lihat juga:Bitcoin Bikin Runyam Proses Cerai di Inggris |
Menurut Schultz, cryptocurrency yang dipercaya harus disahkan oleh perusahaan tradisional. Penggunaan teknologi ini adalah salah satu cara Starbucks untuk mencoba tetap relevan dengan dunia konsumennya baik di dalam toko maupun di luar, di mana uang non-tunai mulai marak digunakan.
"Pertanyaan sebenarnya di peritel offline akhir-akhir ini adalah bagaimana Anda menjadi relevan di luar toko Anda seperti yang Anda lakukan di dalam toko?" kata dia.
Schultz mengatakan bahwa perusahaan selalu mengambil keputusan jangka panjang dan tidak didasarkan pada kinerja kuartal ini atau kuartal berikutnya. Sementara itu, saham Starbucks baru-baru ini diperdagangkan pada US$57,17 turun dari level tertinggi 2017 yakni US$ 64,87. (age/evn)