Dalam laporan yang bertajuk 'Quarterly Mobile Phone Tracker', IDC mencatat total pengiriman ponsel di negara-negara berkembang Asia Tenggara hampir mencapai 100 juta unit di 2017, turun kurang dari satu persen dari tahun ke tahun (YoY).
Dari negara-negara berkembang di Asia Tenggara, hanya Myanmar dan Filipina yang mencatat penurunan pengiriman dibandingkan negara lainnya seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terlepas dari semakin populernya empat pemain teratas yang mampu menahan volume pengiriman, mayoritas pengguna tidak terburu-buru untuk mengganti handset baru jika mereka telah menggunakan handset midrange yang kualitasnya baik dengan harga yang cukup tinggi terutama dengan pertimbangan budget, hal ini mengakibatkan masa pakai dan tingkat penggantian yang lebih lama," paparnya dalam keterangan resmi.
Empat pemain besar di Asia Tenggara adalah Samsung dengan pangsa pasar 29,1 persen dan pengiriman 29,3 juta unit selama 2017. Perusahaan asal Korea Selatan ini berjaya di kelas menengah berkat Galaxy J series.
Oppo menyusul di peringkat kedua dengan pengapalan sebesar 17,2 juta unit dan mampu menguasai 17 persen pangsa pasar. Berkat aktivitas marketing dan deretan artis yang menjadi ambassadornya, seri F Oppo masih disambut baik.
Posisi keempat ditempati Vivo yang mengirimkan 7,2 juta unit ponsel tahun lalu dengan pangsa pasar 7,2 persen. Serupa dengan strategi Oppo, Vivo menjajakan seri V dengan baik di Asia Tenggara.
Produsen asal China Huawei hanya mampu mengapalkan 5,4 juta ponsel tahun ini dan semakin memperlebar jaraknya dari Samsung dengan hanya memperoleh 5,4 persen pasar. Huawei meramaikan pasar ponsel segmen menengah berkat seri Nova.
Apple yang belum terlalu berkeras dengan bisnis di Asia Tenggara justru menempati posisi bungsu di peringkat lima besar. Model lawas seperti iPhone 5, iPhone SE, dan iPhone 6 mendominasi dengan total pengapalan 4,5 juta perangkat dengan pangsa pasar 4,4 persen. (evn)