Pakar keamanan siber Ismail Fahmi menelusuri rekam jejak digital pembentukan dan perang siber yang dilakukan oleh MCA. Dalam penyidikannya itu, Ismail menggunakan Tools Analytic dari platform media sosial.
Ismail yang juga pengembang mesin pengais konten negatif milik Kominfo itu menyatakan pembentukan MCA sudah terlihat sejak awal 2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka yang menggerakkan di sosmed supaya publik, umat, beramai-ramai datang ke Monas melawan cluster yang lain. [Cluster lain] ini adalah cluster yang jika kita runut dari awal adalah cluster pro pemerintah," terangnya dalam wawancara dengan CNNIndonesia, Kamis (7/3).
Ismail mengungkap bahwa MCA memulai debut pertama mereka lewat ajang Pilkada DKI Jakarta. Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi sasarannya.
Dalam Pilkada DKI seharusnya hanya ada tiga cluster sosial media yang terbentuk dari masing-masing pasangan calon. Buktinya, MCA menjadi cluster keempat yang ikut menyemarakkan pesta demokrasi yang menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia itu.
"Ada kelompok pro Ahok-Djarot, Agus-Silvy dan Anies-Sandi. Tetapi ternyata ada yang keempat, inilah yang disebut MCA tadi. Jadi mereka tidak terafiliasi dengan lebih condong ke Agus-Silvi atau Anies-Sandi, tetapi ideologinya yang terpenting adalah menyerang Ahok," ungkapnya.
Perlawanan dari ketiga kubu melawan Ahok disebut Ismail membuat tim siber Ahok bekerja keras saat gelaran Pilkada. Mereka harus membuat serangan terhadap lawan paslon, mempromosikan Ahok-Djarot dan sekaligus mempertahankan diri melawan serangan MCA.
"Tanggal 28 Februari [sehari setelah penangkapan, cluster pro pemerintah] makin besar, tim MCA juga semakin besar di sosmed. Jadi kekuatannya kalau kita bilang makin turun ya tidak juga. Dua duanya itu sama kuat yang pro pemerintah dan MCA," ungkapnya.
Ismail melanjutkan bahwa anggota MCA ini bisa jadi berjumlah ratusan ribu hingga jutaan dari mana kalangan mana saja. Kepolisian hanya menjaring beberapa di antaranya sebagai simbol keseriusan dalam menangkap pelaku penyebar hoax.
[Gambas:Youtube] (eks)