Aini mengatakan keterbatasan alat komunikasi berbasis satelit pada kapal tangkap ikan nelayan dengan bobot di bawah 30 Gross Ton (GT). Padahal, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mewajibkan kapal dengan bobot di atas 30 GT untuk menyediakan sistem tersebut.
Untuk itu dia merancang alat dengan algoritma optimasi trafik data "Breadth Fixed Gossip" (BFG) sebagai kombinasi dari algoritma pencarian "Breadth First Search" (BFS), model fixed radius atau cakupan transmisi kapal, dan algoritma Gossip serta "Chaos Particle Swarn Optimilization" (CPSO) pada jaringan dinamik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Nokia dan Vodafone Bakal Gelar 4G di Bulan |
Dia menambahkan, selama ini kapal menggunakan "Vessel Monitoring System" (VSM) untuk berkomunikasi antarkapal, dan pusat monitoring yang ada di darat menggunakan media satelit. Namun, banyak kapal nelayan Indonesia dengan bobot di bawah 30 GT belum dilengkapi peralatan komunikasi berbasis satelit tersebut.
Selain itu, penelitian yang dilakukan sejak tahun 2013 ini juga menghasilkan algoritma optimasi rute destinasi tangkapan ikan dengan menggunakan "Firefly Algorithm" (FA) dan "Genetic Algorithm" (GA).
Dengan algoritma yang telah ia buat ini memungkinkan kapal tangkap ikan nelayan untuk bertukar informasi melalui media satelit. Hal tersebut ia buktikan dengan simulasi yang dilakukannya.
Melalui simulasi tersebut diketahui juga memungkinkan untuk setiap nelayan mengabarkan kondisi terkini ketika diketahui ada kapal asing yang hendak mencuri ikan.
"Pemodelan ini diharapkan agar trafik data antar kapal dan destinasi menuju lokasi dengan ikan yang berlimpah dapat diketahui, dan dengan adanya sistem komunikasi berbasis satelit ini pencurian ikan dapat diatasi," ujar Aini. (age)