Dia ingin pasokan listrik di Kepulauan Seribu yang hanya sebesar 9 Mega Watt itu bertambah hingga mencapai 50 Mega Watt.
"Ya harus ada energi baru, renewable energi di Kepulauan Seribu, optimalkan yang ada dan ciptakan yang baru," kata Sandi di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (20/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada berbasis surya, berbasis angin juga, ada yang berbasis sampah karena kepulauan seribu menghasilkan sampah alangkah baiknya kalau sampahnya tidak dibawa lagi ke Bantargebang, seperti kemarin yang di Muara Angke itu tapi itu malah diolah di sana juga," kata dia.
"Ada 105 pulau, yang baru teraliri 16 pulau itu juga listriknya 'byar pet' kita ingin tingkatkan ini," katanya.
Dampak pada Ekonomi
Sandi pun berharap dengan adanya peningkatan daya listrik di Kepulauan Seribu ini akan berdampak pada sisi ekonomi hingga pendidikan.
"Kami akan hadirkan suatu rencana yang bisa tereksekusi dengan baik. Dan kita inginnya cepat karena memang melibatkan dunia usaha langsung. Di sini ada beberapa pengusaha yang siap berinvestasi," kata Sandi.
Dewan Energi Nasional (DEN) mencatat penggunaan energi di Indonesia masih didominasi oleh minyak bumi (46 persen) dan batu bara (26 persen) pada 2015. Lainnya adalah gas bumi (23 persen), dan energi baru terbarukan (5 persen).
Target Rencana Umum Energi Nasional menyatakan penggunaan energi baru terbarukan pada bauran BBM mencapai 23 persen pada 2025. Hal itu untuk menggantikan penggunaan energi fosil yakni batu bara (30 persen), minyak bumi (25 persen) dan gas bumi (22 persen). (asa)