Dengan radarnya, Fraunhofer FHR berhasil mengamati gambaran detil dari stasiun luar angkasa yang diperkirakan akan jatuh antara tanggal 30 Maret dan 3 April tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, peneliti FHR masih mengalami kesulitan untuk memperkirakan titik lokasi bakal jatuhnya bangkai stasiun luar angkasa itu. Sebab, stasiun ini mengitari bumi setiap 90 menit dengan kecepatan 28.000 kilometer per jam. Sehingga, sangat sulit memprediksi kapan dan dimana tepatnya wahana ini akan jatuh.
Untuk itu, ESA menugaskan Fraunhofer FHR untuk menentukan dan menginvestigasi rotasi alami dari Tiangong-1. Sebab, rotasi ini mempengaruhi karakteristik penerbangan stasiun ruang angkasa dan kapan terjadinya benturan.
Secara garis besar, lembaga itu memperkirakan letak jatuhnya satelit ini akan ada di sekitar 43 derajat lintang utara dan 43 derajat lintang selatan. Namun, hitungan yang lebih akurat hanya bisa dilakukan beberapa hari sebelum terjadinya benturan.
Selain Fraunhofer, dua peneliti asal Universitas Arizona Amerika Serikat juga melakukan pengamatan stasiun ini. Profesor Vishnu Reddy dan mahasiswanya Tanner Campbell ikut mengamati Tiangong-1 dengan sensor optik. Peralatan dan software yang mereka buat ini bisa digunakan oleh peneliti dan peminat lain yang ingin ikut melakukan pengamatan.
Jika jatuh di wilayah Indonesia, LAPAN memperingatkan agar warga tak menyentuh benda aneh yang kemungkinan ditemui. Sebab, ada kandungan berbahaya yang ada dalam Tiangong-1, yaitu sisa bahan roket kendali berisi Hydrazine.
ESA sendiri menyediakan laman pelacakan stasiun luar angkasa tersebut di tautan ini. Hasil pelacakan akan diperbarui tiap 1-2 hari sekali. Meski demikian, ESA tetap tak bisa memberikan kepastian kapan Tiangong-1 akan jatuh ke bumi. (eks/btg)