Unjuk rasa pengemudi ojek online bukan kali ini saja terjadi. Mereka telah beberapa kali menuntut hal yang sama. Belum merasa cukup, mereka kembali mendesak pemerintah mendengar kebutuhan mereka yang terdiri dari beberapa butir.
"Kami mohon Bapak Ir. H. Joko Widodo bersedia mewujudkan payung hukum yang di dalamnya memuat sekurang-kurangnya tiga aspek mendasar," bunyi tuntutan pengemudi ojek online dari berbagai platform atas nama Gerakan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda Indonesia).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun tiga aspek yang dimaksud oleh mereka adalah:
1. Pengakuan eksistensi legal sebagai bagian dari sistem transportasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
3. Perlindungan hukum dan keadilan bagi ojek online sebagai bagian dari tenaga kerja di Indonesia.
Berbekal mobil komando, sejumlah pengemudi ojek online bergantian menyampaikan orasi ke hadapan ribuan pengemudi ojek online. Dari sekian banyak orasi yang bergema di sana, pesan mereka tetap sama yakni payung hukum dan tarif yang tidak mencekik.
Sementara, pemerintah bergeming. Belum juga meloloskan motor sebagai moda transportasi umum ke dalam aturan perundang-undangan. Pertimbangannya, tingkat keselamatan penumpang pada kendaraan roda dua itu rendah.
Peraturan itu menurut Tigor sangat dibutuhkan lantaran pengemudi ojek online rentan mendapat perlakuan sepihak dari perusahaan yang menaungi mereka.
"Misalnya di tarif. Mereka (aplikator) itu bisa mengubah tarif seenaknya. Yang kasihan para pengemudi ini ketika tarifnya sudah rendah sekali. Padahal kalau merujuk PM 108 tentang taksi online kan aplikator enggak boleh menentukan tarifnya sendiri," tegas Tigor kala itu. (eks)