Ketua DPR Dorong Kominfo Tindak Pelaku 'Miskol' +242

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Senin, 02/04/2018 13:29 WIB
Ketua DPR RI meminta Komisi I dan Kominfo segera menindak pelaku modus pencurian pulsa oleh nomor seluler asing berkepala +242. Ilustrasi.(Foto: Pixabay/niekverlaan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Komisi I dan pemerintah menindak pelaku modus pencurian pulsa oleh nomor seluler asing berkepala +242. Bambang juga mengirim sinyal kepada Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) serta Bareskrim Polri untuk mengusut kasus ini.

Kader Partai Golkar itu menyarankan pemerintah mengambil tindakan pencegahan terlebih dahulu.

"Meminta komisi I dan Kemenkominfo dan operator seluler untuk melakukan pemblokiran terhadap panggilan internasional yang mencurigakan dan yang frekuensinya tidak wajar," kata Bambang, Senin (2/4).


Modus penipuan melalui telepon dengan nomor berkepala +242 mulai ramai di Twitter. Kepala nomor itu adalah kode telepon asal Kongo.
Diperkirakan biaya mengangkat telepon dari nomor tersebut bisa mencapai US$20 (sekitar Rp275 ribu) untuk beberapa detik.

Selain tindak pencegahan, Bambang mendorong BSSN dan Satgas Cyber Bareskrim Polri untuk melakukan investigasi terhadap kasus pencurian pulsa ini.

Modus penipuan ini sejatinya tak hanya menimpa sejumlah orang di Indonesia, tapi juga di Swedia. Mengutip situs TrueCaller, operator seluler Swedia sampai mengimbau agar pelanggannya tak menerima telepon berkode +242.

Operator seluler di Indonesia sendiri sudah mewanti-wanti para pelanggannya agar tak menerima telepon atau membalas SMS dari nomor asing tersebut.
Sebelumnya Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata, sudah melempar imbauan agar konsumen lebih waspada dengan nomor berkode +242.

Sebelumnya, Head of Corporate Communications Group PT Indosat Tbk Deva Rachman mengimbau pelanggan untuk tidak menelpon kembali atau mengirim pesan singkat jika ada panggilan telepon tak dikenal dengan kode area luar negeri.

"Panggilan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab biasanya dilakukan di waktu-waktu yang tidak lazin seperti tengah malam sehingga menimbulkan kepanikan pelanggan dan secara reflek akhirnya merespons," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (1/4). (age/age)