Menurut pendiri perusahaan mobil listrik Tesla itu, pabrikan otomotif selama masih lamban dalam memproduksi kendaraan penumpang. Ini dampak dari mempercayai tenaga manusia dalam merakit mobil.
Padahal, dijelaskan Musk dengan mengurangi tenaga manusia, menyederhanakan desain mobil dan memasang lebih banyak robot, maka pabrik-pabrik tersebut bisa lebih banyak memproduksi mobil dalam satu tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sejumlah pengamat menilai ambisi Elon Musk tentang pabrik yang sepenuhnya otomatis yang akan memproduksi satu juta mobil dalam tahun adalah pemborosan yang menghambur-hamburkan dana dan akhirnya gagal. Pabrik produksi mobil yang ada saat ini dinilai lebih efektif ketimbang visi dan misi Elon Musk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya diberitakan bahwa produsen mobil listrik asal Amerika, Tesla, menunda peluncuran sedan terbaru Model 3 pada Rabu, 3 Januari 2017. Pengumuman penundaan tersebut adalah kali kedua sampai batas waktu yang belum ditentukan. Kabarnya Musk berencanan meluncurkan Model 3 sebelum masuk semester kedua 2018.
Lihat juga:Elon Musk Hapus Facebook Tesla dan SpaceX |
Pada akhirnya dengan 'robotisasi', Liker percaya bahwa bencana tidak bisa dihindari, karena orang pintar di sekitarnya akan menemukan ide-idenya tidak berguna.
Liker sempat bereaksi pernyataan Musk dalam konferensi telepon dengan analis Wall Street pada 7 Februari untuk meninjau kinerja Tesla 2017, yang mengalami kerugian sebesar US$ 2 miliar atau setara Rp27 triliun.
Musk menanggapi kerugian yang dialami Tesla saat itu bahwa perusahaannya terlalu percaya diri. Musk mengakui jika tenaga manusia masih dibutuhkan untuk ke depannya seperti perusahaan Toyota yang membanggakan sumber daya manusia mereka. (mik)