Mengutip Reuters yang bersumber dari laporan Washington Post, penyebab utama perselisihan Koum dengan Facebook adalah strategi perusahaan induk yang hendak memakai data pribadi dan melemahkan enkripsi WhatsApp.
"Sudah hampir satu dekade sejak Brian dan saya memulai WhatsApp, dan sebuah perjalanan yang hebat dengan orang-orang terbaik," tulis Koum di akun Facebook miliknya, Selasa (1/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO Facebook Mark Zuckerberg mengomentari status Koum tersebut. Zuckerberg merasa bersyukur pada kehadiran Koum yang sudah mengajarkannya soal teknologi enkripsi.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook berniat menjadikan WhatsApp sebagai lumbung pendapatan baru melalui iklan. Dengan basis pengguna mencapai 1 miliar lebih, menempatkan iklan di WhatsApp seperti halnya model bisnis Facebook menjadi sangat menggoda.
Namun manajemen WhatsApp cukup resisten terhadap wacana iklan di aplikasinya. Sejak 2012, mereka sudah menyatakan tak ingin menjadi perusahaan teknologi demikian yang kerjanya mengutak-atik kolam data.
Sementara itu, Facebook terus menjadi sorotan di berbagai belahan dunia setelah skandal kebocoran data Cambridge Analytica menyeruak.
Keputusan Koum mengundurkan diri menyusul Brian Acton yang bersamanya mendirikan WhatsApp pada 2009 silam. Acton hengkang lebih dulu pada September 2017.
(nat)