Subaru, manufaktur asal Jepang tersebut seakan mengkuti tren membodohi konsumennya dengan perangkat khusus yang tidak pernah terlihat. Kasus ini terungkap setelah investigasi beberapa tahun terakhir.
Pada bulan Desember tahun lalu, Subaru yang bekerja sama dengan firma hukum Jepang Ohno & Tsunematsu memulai penyelidikan internal untuk menentukan apakah indikator jarak tempuh bahan bakar minyak pada mobil baru telah dipalsukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data mobil yang ditemukan selama bulan desember 2012 hingga bulan November 2017. Namun pihak penyidik tak bisa mendapatkan data sebelum November 2012.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait manipulasi data konsumsi bahan bakar pada 903 mobil diduga karena mendapat arahan dari instruktur senior Subaru di mana arahan berupa "untuk setiap kendaraan yang tidak memenuhi standar maka alat ukur harus diubah agar memenuhi standar".
Namun kabar tersebut dibantah oleh pihak Subaru, jika perusahaan tidak ada instruksi khusus untuk melakukan kecurangan ini. Selanjutnya Subaru menganggap perubahan emisi dan data konsumsi bahan bakar yang ditemukan oleh Investigasi tidak pantas.
Dalam kasus ini, pihak Subaru mengatakan bahwa penarikan atau recall tak dibutuhkan, karena faktaknya, pihak Subaru mengklaim telah memenuhi standar kontrol kualitas internal untuk setiap produk yang dijual dalam keterangan resmi. (mik)