Ahli keamanan siber, Jackie Stokes, membenarkan bahwa terduga memang melakukan penguntitan secara online. Menurut korban, pria tersebut memang bekerja di Facebook dan dia menemukannya di Tinder.
Pria ini pun terkoneksi LinkedIn dan tersambung dengan melalui koneksi salah satu karyawan Facebook lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menjaga kontrol dan kebijakan teknis yang ketat untuk membatasi akses karyawan ke data pengguna. Akses tergantung pada fungsi pekerjaan, dan karyawan yang ditunjuk hanya diizinkan untuk mengakses sejumlah informasi yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawab pekerjaan mereka, seperti menanggapi laporan bug, pertanyaan dukungan akun, atau permintaan hukum yang valid," demikian jawab juru bicara Facebook seperti yang dikutip dari Business Insider.
Praktik perlindungan privasi Facebook telah menjadi sorotan sejak perusahaan itu mengungkapkan 87 juta data pengguna Facebook jatuh ke Cambridge Analytica yang merupakan perusahaan penambangan data Inggris. Perusahaan tersebut bekerjasama dengan kampanye pemilihan presiden untuk calon Donald Trump.
Pengungkapan itu menyebabkan CEO Facebook Mark Zuckerberg memberi kesaksian di hadapan Kongres dan menerapkan tindakan privasi yang lebih ketat dan memperluas kontrol privasi pengguna.
Kemarin selama konferensi pengembang tahunannya, Facebook mengumumkan akan membiarkan pengguna memilih opsi keluar dari pelacakan riwayat peramban. Perusahaan jejaring sosial ini juga meluncurkan fitur kencan baru. (age)