Bismarck sengaja mengedit telegram dari utusan raja tadi untuk membakar sentimen kebencian rakyat Prusia terhadap Prancis. Kehadiran musuh bersama membuatnya lebih mudah mempersatukan wilayah-wilayah yang tadinya sulit dikontrol kerajaan.
Hasilnya pun sejalan dengan ekspektasi Bismarck. Prusia akhirnya menang atas Prancis setelah perang berlangsung selama setahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Hoaks Kian Subur Jelang Pemilu |
Para Politisi yang Tersangkut Hoaks
Majalah Obor Rakyat pada 2014 menampilkan secara gamblang bagaimana pembunuhan karakter berusaha dilakukan dengan mengarang fakta-fakta alternatif yang oleh sebagian kalangan akan diterima -- terlepas dari kadar kebenarannya.
Dalam edisi perdana yang terbit Mei 2014, Obor Rakyat membuat laporan yang menuduh Joko Widodo berasal dari keturunan China dan kaki tangan asing serta tuduhan lainnya. Meski relatif cepat ditindak oleh penegak hukum, hoaks tersebut beredar cepat di internet dan media sosial. Sebagian tuduhan tersebut masih diyakini oleh sebagian orang hingga hari ini.
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menganggap serangan hoaks tersebut sebagai sampah. Ia mengaku kerap menjadi target hoaks dan fitnah karena kerap lantang mengkritisi pemerintah. Namun ia tak tertarik menanggapinya secara serius.
"Saya enggak mau pakai pendekatan hukum karena menurut saya tidak dewasa dalam merespons sampah-sampah seperti ini, kalau direspons kita sampah juga nanti," kata Mardani sambil terkekeh.
Mardani juga menceritakan pengalaman lain terkait hoaks yang terjadi pada internal partainya. PKSPiyungan(dot)org adalah situs berafiliasi PKS yang cukup terkenal menyebar hoaks politik pada zamannya.
Lihat juga:Gojek Laporkan Hoaks Gofood Disusupi ISIS |
Mardani berpendapat keberadaan hoaks di media sosial sebagai masalah yang harus dihadapi bersama. Sementara dalam konteks pemilu, ia melihat Komisi Pemilihan Umum (KPU) seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk meredam hoaks politik di media sosial yang bermunculan di masa kampanye.
Regulator Harus Lebih Aktif
Damar Juniarto, Koordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), merasa pengadil pemilu di Tanah Air tidak peka terhadap risiko yang timbul akibat hoaks dalam kampanye politik.
Damar menyoroti prosedur KPU dan Bawaslu yang hanya mewajibkan peserta pemilu mendaftarkan buzzer resminya. Cara ini bisa dengan mudah diakali karena kerap kali buzzer memakai akun bayangan untuk memperluas jangkauan pengaruh digitalnya.
"Saya menyarankan KPU dan Bawaslu memperketat iklan politik di platform digital sebab harus ada batas-batas untuk hal ini," tegas Damar.
Sejauh ini Damar belum melihat langkah progresif dari penyelenggara dan pengadil pemilu tersebut. Padahal ia mencatat negara-negara tetangga seperti Myanmar dan Thailand kesulitan menghadapi badai hoaks jelang pemilu.
"Semua saran tadi bisa dilakukan apabila KPU dan Bawaslu bekerja sama dengan platform digital, kalau cuma sekadar seperti sekarang enggak akan mengurangi risiko hoaks di kampanye media sosial." (evn)