Sehingga, mereka meminta Facebook untuk melepas Instagram, WhatsApp, dan Messenger. Mereka pun mendorong Facebook untuk menerapkan aturan privasi yang ketat.
Pasalnya, Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger adalah aplikasi yang digunakan oleh sebagian besar warga Bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam petisi itu, disebutkan bahwa Facebook dan CEO-nya, Mark Zuckerberg menguasai kehidupan manusia dengan cara melacak ke mana manusia pergi--di dunia nyata dan di dunia maya--dan memberikan informasi pribadi pengguna kepada pengiklan.
"Facebook sudah memiliki kontrol atas ekonomi, ekosistem informasi, politik, dan bahkan kesehatan emosi manusia," ujar David Segal yang merupakan Direktur Eksekutif dari salah satu kelompok aktivis, Demand Progress, seperti dilansir dari CNET.
Setelah kasus tersebut, Facebook telah memperbaharui kebijakannya tentang data, Zuckerberg mengajukan permohonan maaf dan bersaksi di hadapan kongres AS. Ia juga menyatakan bahwa Facebook akan memperkuat peraturan tentang iklan politik.
Merespons kampanye tersebut, seperti dilansir dari Phys, seorang juru bicara mengatakan saat ini Facebook berada dalam lingkungan yang kompetitif, dan para penggunanya di saat yang bersamaan juga menggunakan jasa-jasa yang diberikan oleh perusahaan jejaring sosial lain.
Facebook memiliki sekitar dua miliar pengguna di seluruh dunia, sedangkan Messenger dan WhatsApp masing-masing memiliki lebih dari satu miliar pengguna.
Untuk mememecah perusahaan besar ini diperlukan investigasi panjang oleh pihak yang berwenang, belum lagi persidangan-persidangan yang juga akan memakan waktu lama.
Hingga saat ini FTC belum memberikan komentar terkait kampanye dan petisi tersebut. Berbicara soal aplikasi yang menguasai hajat hidup orang banyak, bukan hanya Facebook yang banyak memberi pengaruh di internet seperti dituduhkan kelompok tersebut.
Satu perusahaan raksasa lainnya adalah Google. Namun, sepertinya Facebook tengah menjadi pusat prahara belakangan ini lantaran tersandung skandal penyalahgunaan data pengguna oleh Cambridge Analytica. (eks)