"Misalnya operator besar ambil kemudian ambil Palapa Ring, nanti mereka akan jual lagi ke operator-operator kecil. Itu diperbolehkan oleh kita," ungkap Anang ditemui usai diskusi media LTE Conference di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (24/5).
Menurutnya lahan reseller jaringan ini akan menjadi potensi yang sangat bagus. Nantinya operator besar akan berfungsi sebagai integrator jaringan yang sudah ada dengan Palapa Ring. Anang meyakinkan ini akan semakin menarik perhatian para operator untuk menggunakan Palapa Ring.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah mengatakan membebaskan para operator dalam skema jaringan ini. Pasalnya pemerintah hanya bertugas untuk membangun infrastruktur backbone (tulang punggung) jaringan.
"Kreativitas dan inovasi ini kami serahkan ke para operator. Intinya kami hanya membangun jaringan kabel optik," ucap Anang.
"Tengah sampai saat ini 76 perse. Lalu Timur sudah mencapai 46 persen. Harapannya seluruh paket akan selesai di akhir tahun ini. Kemudian seluruh paket di awal 2019 dapat beroperasi," katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Palapa Ring Barat Syarif Lumintarjo mengatakan dari kapasitas 10x10 GB (100 GB per detik) yang dimiliki Palapa Ring Barat, operator bisa menggunakan paling tidak 80 persen.
Artinya sekitar 80 GB per detik bisa diserap oleh operator. Model skema dari kapasitas itu, diserahkan kepada industri.
"Bisa saja begini, yang kerja sama dengan Palapa Ring Barat, satu pihak tapi satu pihak ini bisa mecah ke beberapa pihak juga dimungkinkan. Nanti biar industri sajalah yang seperti itu. Kami tidak bisa memecah order yang lebih kecil. Makanya sesuai dengan namanya, kami membangun jaringan tulang punggung," kata Syarif. (evn)