Ide dasarnya adalah agar pengguna individu bisa menyewakan penyimpanan komputernya untuk bisa digunakan oleh orang lain.
Kendati demikian, menurut Founding Member of Indonesian Blockchain Network Kenneth Destian Tali, penerapan blockchain sebagai penyimpanan data tidak user friendly karena agak rumit untuk melakukan proses penyimpanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya mereka sulit diadopsinya. Saya yang mengerti teknologi sudah pernah coba, dan susah. Tidak semudah masang Google Drive," ujar Ken di kawasan Slipi, Jakarta, Jumat (25/5).
Penyewa dapat bitcoin
Para pengguna yang menyewakan ruang penyimpanan tersebut akan mendapatkan token bitcoin. Idenya adalah menghapus pihak ketiga dalam sistem penyimpanan seperti Google Drive atau Dropbox.
Penyedia membuat akses agar ruang penyimpanan itu saling tersambung satu sama lain. Mirip dengan Google Drive atau Dropbox, mereka akan menghubungkan para penyewa dengan penyedia ruang penyimpanan.
Menurut Ken, para penyedia tidak akan bisa membuka data dari pengguna karena terdapat kode enkripsi yang hanya bisa diakses pengguna.
"Tinggal upload, blockchain akan pecah file ini dan disimpan di beberapa server. Nantinya semua file akan dienkripsi," kata Ken. (eks)