Muhammad Arkaan Izhraqi, Nyoman Abiwinanda, dan Adinda Sekarwangi merupakan sosok dibalik penciptaan alat tersebut.
Arkaan mengaku kemunculan alat ini terinspirasi dari Badan SAR Nasional yang menggunakan drone untuk sistem UAV pencarian korban di lautan. Alat ini diharapkan bisa membantu pencarian korban kecelakaan di laut yang kerap terjadi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
HDS disebutnya juga jadi solusi efektif lantaran penggunaan UAV dan operator tidak bisa melakukan pencarian korban kecelakaan selama 24 jam.
Hexacopter juga memungkinkan HDS terbang sesuai dengan waypoint yang telah ditetapkan oleh operator di stasiun pemantau (ground station) sebagai bentuk inisiasi awal.
"Lalu video akan ditransmisikan ke ground station kemudian di proses dengan peranti lunak pendeteksi manusia. Di bagian antarmuka stasiun pemantau, akan ditampilkan notifikasi berupa bonding box," jelasnya.
Proses pendeteksian korban menggunakan algoritme yang disebut You Only Look Once (YOLOv2) yang ditanam di komputer ground station. Kemudian hasil pendeteksian berupa manusia dan kapal akan dioptimasi menggunakan boosting tracker berkecepatan 18fps (frame per detik).
"Sejauh ini, HDS baru mampu mendeteksi objek di dekat permukaan laut saja. Sehingga perlu dilakukan peningkatan pada pengambilan gambar seperti dengan digunakannya kamera inframerah," ungkapnya. (evn)