5 Fakta Skandal 'Dieselgate' Volkswagen Grup

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 20/06/2018 08:38 WIB
5 Fakta Skandal 'Dieselgate' Volkswagen Grup Memanipulasi emisi gas buang atau dieselgate Volkswagen Grup dilakukan sejak 2015. (REUTERS/Axel Schmidt)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Audi Rupert Stadler resmi ditangkap otoritas Jerman dengan tuduhan terlibat manipulasi emisi gas buang atau dieselgate Volkswagen Grup pada produk-produknya sejak 2015.

Jaksa penuntut di Munich, dikutip dari Guardian, melayangkan surat perintah penangkapan sebagai bagian dari investigasi skandal emisi gas pada mobil Audi.

Skandal dieselgate ini telah mencoreng nama besar VW Grup. Apa itu 'dieselgate'? Berikut rangkuman faktanya.


1. Skandal bermula pada 2015

Dilansir dari AFP, pada 18 September 2015 Agen Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) melaporkan bahwa VW menyematkan perangkat 'penakhluk' ilegal pada ratusan ribu mesin 2.0 liter yang dijual di Amerika Serikat sejak 2009. Perangkat dipasang pada VW, Porsche, Audi, Seat dan Skoda.

Perangkat disebut dapat membantu mobil memenuhi standar emisi gas buang saat dilakukan tes uji coba emisi. Padahal kenyataannya, gas buang mereka tak lolos uji emisi.

Empat hari kemudian perusahaan mengakui bahwa sebanyak 11 juta mesin diesel tersebar di seluruh dunia, termasuk 8,5 juta di Eropa, dan 600 ribu di AS sudah dipasang perangkat penipu tersebut.

Hasil investigasi menemukan bahwa sebagian mobil memuntahkan nitrogen oksida yang 40 kali lebih berbahaya dari yang diizinkan. Gas buang dapat memicu penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Pada Mei lalu, Jerman memerintahkan Porsche untuk menarik sebanyak 60 ribu kendaraan di seluruh Eropa setelah mereka ketahuan memasang peranti 'jahat' itu. Sebulan kemudian, Audi melakukan langkah serupa.

2. Gonta-ganti pemimpin

Skandal tak pelak menimbulkan kegaduhan di internal perusahaan. Direktur eksekutif VW, Martin Winterkom terpaksa mundur meski mengklaim dirinya tak tahu-menahu soal skandal. Ia pun digantikan oleh Matthias Mueller yang kini menjalani pemeriksaan.

Pada April 2017, Matthias pun naik jabatan menjadi CEO ditunjuk oleh direktur VW, Herbert Diess. Skandal menyeret VW ke meja hijau pada Maret 2017. Mereka terkena denda pidana US$4,3 miliar dan denda perdata US$17,5 miliar untuk kompensasi pada pemilik dan dealer serta untuk pembersihan lingkungan.

VW tak lagi berhadapan dengan hukum, tetapi delapan mantan dan direktur yang masih menjabat termasuk Martin ditangkap. Dua di antaranya sudah masuk hotel prodeo.

Namun, mereka belum memberikan kompensasi pada pengemudi di Eropa. Hal ini menimbulkan kejengkelan lembaga perlindungan konsumen setempat. Pada awal bulan ini, VW pun akhirnya setuju untuk membayar denda satu miliar euro sesuai tuntutan jaksa di Jerman.

Setelah ada upaya hukum, skandal diharapkan dapat berakhir. VW pun mengumumkan untuk melakukan pembaruan dengan fokus pada kendaraan listrik. Tujuannya untuk menjadi pemrakarsa mobil listrik pada 2025.

3. Kehilangan jutaan euro

Akibat skandal, VW harus mengucurkan dana hingga lebih dari 26 triliun euro untuk membayar denda, kompensasi dan membeli kembali, terutama di AS. Mereka sempat mengumumkan bahwa VW menderita kerugian mendekati 1,6 triliun euro pada 2015 setelah menyisipkan triliunan demi menutupi skandal busuk tersebut.

Akan tetapi pada 2016 mereka mampu meraup keuntungan 5,1 triliun euro diikuti 11,35 triliun euro pada 2017. Di balik besarnya keuntungan, mereka tetap harus berhadapan dengan tuntutan hukum dari ribuan pembeli mobil dan investor di seluruh dunia termasuk Jerman, Prancis, Italia, Inggris dan Polandia.

4. Investigasi dilakukan pada merek-merek mobil lain

Skandal 'dieselgate' VW memunculkan pertanyaan soal kemungkinan kecurangan serupa oleh merek-merek mobil lain. Namun, tak ada satupun yang mau mengakuinya, seperti BMW dan Mercedes-Benz.

Sejumlah analis mengatakan beberapa produsen memungkinkan untuk menonaktifkan kontrol emisi dalam kondisi tertentu untuk melindungi mobilnya agar tidak dalam dieselgate.

Di sisi lain, kantor mobil mewah asal Jerman, BMW dan Mercedes-Benz telah digrebek oleh pihak penyidik saat mencari bukti kemungkinan kecurangan. Pemerintah Prancis juga melakukan hal serupa pada merek VW, Renault, Peugeot dan Fiat, merk asal Italia.

5. Skandal membuat VW 'runtuh'

Skandal memang membuat penjualan VW jatuh di AS, tetapi hal ini tampaknya tak membuat sebagian besar pembalap Eropa acuh. Grup VW masih jadi pembuat mobil terbesar sedunia dengan catatan penjualan sebanyak 10,74 juta unit kendaraan tahun lalu.

Jumlah ini melebihi penjualan sebelum kasus merebak. Kendati demikian pangsa pasar mobil diesel telah jatuh di seluruh Eropa. Bahkan sejumlah negara Eropa mengumumkan akan menghentikan menjual mobil diesel pada 2025. (mik)