GM mengatakan kebijakan dagang Trump ini bisa menyebabkan perang dagang industri otomotif. Kekhawatiran ini tidak hanya disampaikan oleh General Motors, tapi juga oleh diikuti oleh banyak perwakilan dari industri otomotif dan industri suku cadang kendaraan.
"Tingginya peningkatan tarif bisa menyebabkan GM menjadi lebih kecil. Ini mengurangi keberadaan perusahaan di Amerika dan di luar negeri. Peningkatan tarif ini juga akan beresiko mengurangi jumlah lapangan kerja di Amerika," kata GM dalam surat tertulis ke Kementerian Perdagangan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Perdagangan baru-baru ini mengumpulkan komentar publik sebagai usaha investigasi yang digelar pada bulan Mei. Investigasi mencoba menguak apakah impor mobil dan suku cadang mobil mengancam keamanan nasional Amerika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah ini merupakan serangkaian kebijakan perdagangan yang agresif. Keagresifan kebijakan perdagangan ini termasuk kebijakan Trump yang memutuskan untuk memberlakukan pelonjakan tarif pada impor besi dan aluminium. Lonjakan tarif ini sebesar 25 persen pada puluhan miliar dolar produk China.
Ia juga mengatakan GM baru-baru ini berinvestasi sebesar US$265 juta untuk membangun pabrik di Kansas. Pabrik ini akan memproduksi SUV Cardillac terbaru.
"Saya juga mengerti bahwa pemerintah ingin mencapai tingkatan tertentu di perdagangan internasioal. Kendati begitu, saya tetap memerhatikan keberlangsungan perkembangan industri otomotif," kata Colyer
"Kendaraan impor tidak mengancam kemanan nasional Amerika Serikat. Malah meningkatkan pilihan kebutuhan beragam dari konsumen. Bahkan kebutuhan ini juga menciptakan permintaan baru di pasar," kata JAMA
Serikat United Steelworker justru mendukung tarif Trump ini. Mereka beranggapan sektor-sektor otomotif merupakan hal krusial dalam kepentingan negara.
"Sektor otomotif dan suku cadang akan sangat penting bagi keberlanjutan pertahanan negara kami," kata serikat tersebut. (adf/age)