Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R. Prabowo menyebut suhu udara dingin di tengah musim kemarau sebagai fenomena alamiah dan tak ada kaitannya dengan aphelion.
"Sebenarnya fenomena aphelion ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. Di waktu bersamaan wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia," jelasnya dalam keterangan resmi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhu terendah di beberapa daerah yang berada di dataran tinggi seperti Ruteng (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Pasuruan) bahkan menyentuh 12 derajat Celsius.
Kondisi ini bertolak belakang dengan musim hujan atau peralihan yang dalam hal ini kandungan uap air di atmosfer cukup banyak.
Selain suhu cuaca lebih dingin, fenomena embun beku yang terjadi di lereng pegunungan Dieng juga disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.
Saat puncak kemarau, umumnya suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi menjadi lebih kering. Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa sehingga menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan.
Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.
"Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput. Air embun yang menempel dipucuk daun atau rumput akan segera membeku yang disebabkan karena suhu udara yang sangat dingin, ketika mencapai minus atau nol derajat," imbuhnya. (evn)