Lewat fitur itu, AI bisa membantu polisi untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan. Teknologi itu dinamakan "gaydar" yang pada tahun lalu digunakan untuk menebak orientasi seksual seseorang.
AI ciptaan akademisi Stanford University, Michal Kosinski mengatakan, teknologi pembaca wajah ini mampu mendeteksi segala sesuatu, mulai dari keyakinan politik, orientasi seksual hingga IQ seseorang hanya melalui pemindaian satu foto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tahu bahwa hormon testosteron terkait dengan kecenderungan untuk melakukan kejahatan dan testosteron juga berhubungan dengan fitur wajah. Testosteron juga memengaruhi hal lain, ada ribuan atau jutaan yang tidak kita sadari akibat dari testosteron itu. Di sini komputer dengan mudah mampu mendeteksi," kata Kosinski.
Kendati demikian, ia mengakui teknologi ini tentu bisa dianggap melanggar privasi seseorang, Namun, ia juga menyebut teknologi ini bisa menyelematkan nyawa.
Pada tahun lalu, Kosinski menjadi sorotan ketika ia menerbitkan penelitan yang menyebut AI dapat menentukan apakah orang tersebut gay atau normal berdasarkan satu foto.
Penelitian dari Universitas Stanford ini berhasil menemukan bahwa algoritma "gaydar" bisa dengan tepat menentukan orientasi seksual pria sebesar 91 persen dan 83 persen pada wanita.
Kosinski juga mengatakan AI ini mampu menebak pandangan politik dan tingkat kecerdasan orang hanya lewat foto wajah. Pandangan politik, menurut Kosinski merupakan hal yang diwariskan orang tua. Kecenderungan politik menurut Kosinski terkait dengan faktor genetik yang dapat dideteksi oleh AI berdasarkan pemindaian wajah. (mik)