Sebab, teknologi ini bisa melakukan reka ulang setiap gerakan mulut seseorang di video. Syaratnya, DeepFakes harus memiliki cukup banyak sampel data rekaman wajah, video, dan suara agar mereka bisa menirukan dan mereka ulang gerakan mulut dan gestur orang tersebut.
Sehingga, semakin sering video seseorang muncul secara digital, semakin mudah untuk ditiru. Video tiruan ini tampil nyaris tanpa cela, cukup meyakinkan bahwa itu adalah video asli. Bagi orang yang tak terlatih, mungkin akan sulit untuk membedakannya dengan video asli.
Lihat juga:Video Pidato Obama Ini Sebenarnya Lipsync |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Youtube]
Lihat juga:Video Pidato Obama Ini Sebenarnya Lipsync |
Mengerikannya lagi, semua video palsu itu bisa dilakukan tanpa kemampuan mengedit video sama sekali. Bahkan pengguna pun tak perlu tahu masalah teknis soal kecerdasan buatan. Mesin AI-lah yang akan melakukan segalanya. Saat ini sebagian besar aplikasi DeepFakes dibangun berdasarkan platform AI Google TensorSlow, seperti ditulis The Next Web. (eks)