Sebanyak 24,6 persen perusahaan di Indonesia mengadopsi AI. diikuti oleh Thailand (17,1 persen), Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen).
Secara keseluruhdan tingkat adopsi AI di Asia Tenggara telah mencapai 14 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu dengan tingkat adopsi hanya delapan persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berharap investasi di AI akan terus meningkat, karena semakin banyak perusahaan mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka dan bagaimana data dan analisis dapat membantu menghasilkan insight baru," ujar Chwee dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (16/7).
"Dengan dampak positif yang sudah terlihat di industri perbankan, manufaktur, kesehatan dan pemerintahan, ada peluang yang besar supaya lebih banyak perusahaan di Asia Tenggara memanfaatkan AI. Penerapan AI akan mendapatkan keuntungan dari ketepatan, efisiensi dan kelincahan inovasi yang lebih besar, sebagai hasil dari analitik tingkat lanjut," ujar Chwee.
Selain itu, lebih dari 50 persen perusahaan di Indonesia juga masih belum berencana untuk menerapkan AI dalam lima tahun ke depan.
Chwee mengatakan padahal tingkat kepercayaan pada kapabilitas AI di China dan Korea Selatan mencapai lebih dari 80 persen. Kedua negara ini percaya AI sangat krusial bagi kesuksesan dan daya saing perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 23 persen responden mengatakan bahwa penerapan AI di Asia Tenggara disebabkan oleh kekurangan kemampuan dan pengetahuan AI. Selain itu, biaya penerapan AI (23 persen) juga merupakan hambatan penerapan AI. (evn)