Pria Surabaya Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Katarak

JNP, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 15:24 WIB
Pria Surabaya Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Katarak Ilustrasi katarak. (Foto: CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua pria asal Surabaya, Caesar Givanni dan Sylvester Albert mengembangkan layanan untuk mendeteksi katarak dan luka diabetes, CekMata.com.

Memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence, aplikasi ini bisa melakukan deteksi awal penyakit katarak. Pengguna hanya cukup melakukan pemindaian menggunakan kamera ponsel.

Nantinya AI akan mendeteksi berdasarkan data-data kesehatan yang telah dimasukkan oleh pengguna. Albert mengatakan fitur baru ini ditmabahkan untuk mendeteksi dini diabetes.


"Otak buatan di AI ini kita kasih makan data dari pengetahuan oleh manusia. Nanti mesinnya yang belajar sendiri dengan algoritme yang kita tentukan," kata Albert di Kantor Telkomsel, Jakarta Selatan, Kamis (19/7).

Albert mengatakan AI telah dipersenjatai sekitar 700 data terkait katarak dan lebih dari 1.200 data terkait luka diabetes. Ia meyakini bisa mengumpulkan semakin banyak data, sehingga tingkat akurasi AI dalam mendeteksi dini katarak dan diabtes bisa meningkat.

Ia mengungkapkan data katarak diperoleh dari rekan sesama pendiri Caesar Givani yang merupakan dokter spesialis mata di Surabaya. Sementara data terkait luka diabetes dikantongi dari perawat yang telah tiga tahun merawat luka diabetes.

"Tingkat akurasi AI dalam mendeteksi 87 persen atas uji coba 330 pasien. Semakin banyak data kita harap akurasi semakin tinggi. Semakin banyak data semakin pintar intinya itu saja. Tergantung kita nya menentukan algoritma," imbuh Albert.

Sebagai mantan dosen teknologi informasi di Universitas Ciputra Surabaya, Albert menyebut dua penyakit ini menjadi salah satu isu kesehatan penting di Indonesia.

Ia mengungkapkan saat ini sekitar enam persen masyarakat Indonesia merupakan terdiagnosa diabetes. Sementara jumlah spesialis dokter mata 47 persen diantaranya berada di Jawa dan tenaga ahli di Sumatera. Sedangkan di Papua, jumlahnya jauh dibandingkan kedua pulau tersebut.

Akibat kurangnya tenaga spesialis diabetes dan katarak, masyarakat Indonesia ketap terlambat melakukan pengobatan.

"Sering terlambat pengobatan luka diabetes jaringannya dan harus diamputasi. Umur semakin pendek," katanya.

Padahal, deteksi dini bisa mencegah penyakit komplikasi yang lebih parah. Khususnya bagi penderita diabetes yang bisa berujung pada amputasi

Aplikasi besutannya diharapkan bisa melakukan pemesanan perawatan luka secara on-demand ke rumah penderita. Kendati demikian layanan ini baru menjangkau daerah Jabodetabek dan Surabaya.

"Untuk luka kita memiliki beberapa suster yang bisa melakukan pembersihan luka yang dideteksi terkena diabetes ke rumah penderita. Tenaga perawat di Jabodetabek ada 30, di Surabaya ada 15 perawat," imbuhnya.

Albert mengungkapkans aat ini aplikasi besutannya sudah memiliki 20 ribu pengguna. Dalam sehari rata-rata ada 200 orang yang melakukan pemindaian deteksi katarak dan luka diabetes.

Saat ini aplikasi CekMata baru bisa diakses melalui mesin peramban dan belum tersedia di toko aplikasi untuk Android dan iOS. (evn)


ARTIKEL TERKAIT