Memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence, aplikasi ini bisa melakukan deteksi awal penyakit katarak. Pengguna hanya cukup melakukan pemindaian menggunakan kamera ponsel.
Nantinya AI akan mendeteksi berdasarkan data-data kesehatan yang telah dimasukkan oleh pengguna. Albert mengatakan fitur baru ini ditmabahkan untuk mendeteksi dini diabetes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingkat akurasi AI dalam mendeteksi 87 persen atas uji coba 330 pasien. Semakin banyak data kita harap akurasi semakin tinggi. Semakin banyak data semakin pintar intinya itu saja. Tergantung kita nya menentukan algoritma," imbuh Albert.
Sebagai mantan dosen teknologi informasi di Universitas Ciputra Surabaya, Albert menyebut dua penyakit ini menjadi salah satu isu kesehatan penting di Indonesia.
Akibat kurangnya tenaga spesialis diabetes dan katarak, masyarakat Indonesia ketap terlambat melakukan pengobatan.
"Sering terlambat pengobatan luka diabetes jaringannya dan harus diamputasi. Umur semakin pendek," katanya.
Padahal, deteksi dini bisa mencegah penyakit komplikasi yang lebih parah. Khususnya bagi penderita diabetes yang bisa berujung pada amputasi
"Untuk luka kita memiliki beberapa suster yang bisa melakukan pembersihan luka yang dideteksi terkena diabetes ke rumah penderita. Tenaga perawat di Jabodetabek ada 30, di Surabaya ada 15 perawat," imbuhnya.
Albert mengungkapkans aat ini aplikasi besutannya sudah memiliki 20 ribu pengguna. Dalam sehari rata-rata ada 200 orang yang melakukan pemindaian deteksi katarak dan luka diabetes.
Saat ini aplikasi CekMata baru bisa diakses melalui mesin peramban dan belum tersedia di toko aplikasi untuk Android dan iOS. (evn)