Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menuturkan cuaca ekstrem di perairan sepanjang Samudera Hindia yang bersentuhan dengan pesisir barat Pulau Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sejatinya terjadi setiap tahun. Hanya saja pada tahun intensitasnya sedikit meningkat dibanding tahun lalu.
Menurut Dwikorita, semua itu terjadi karena fenomena global yang berlangsung di sebelah timur Madagaskar berupa udara bertekanan tinggi. Udara ini kemudian meluncur menuju udara bertekanan rendah di Australia dan memantul ke wilayah Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang menjadi masalah berikutnya adalah keberadaan angin siklon tropis yang datang dari arah Filipina yang berdampak ke perairan timur Indonesia. Meski siklon ini tidak menimbulkan gelombang setinggi di perairan selatan Indonesia, Dwikorita menyebut udara ini bersifat basah sehingga bisa menimbulkan hujan lebat di sekitar wilayah terdampak.
"Potensi gelombang tinggi ini mulai dari 22 Juli hingga diperkirakan 26 Juli bahkan 28 Juli masih akan terjadi," terang Dwikorita.
Tinggi gelombang diprediksi cukup bervariasi mulai dari 2,5 meter hingga 6 meter. Namun Dwikorita mengatakan puncak gelombang tinggi ini akan terjadi pada 24-25 Juli besok. (age)