Di aula besar di kota Jeddah, ribuan pakar dan mahasiswa di bidang piranti lunak berkompetisi dalam hackaton pertama di Arab Saudi. Festival koding ini sengaja diadakan sebelum pelaksanaan ibadah haji bulan ini.
Dikutip dari AFP, ibadah haji yang diperkirakan akan diikuti oleh lebih dari dua juta orang ini menjadi tantangan yang besar bagi pemerintah Arab Saudi. Begitu banyak orang berkumpul di tempat suci yang relatif kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangkaian bencana mematikan selama bertahun-tahun telah mendorong kritik terhadap pengelolaan penyelanggaraan Haji di Arab Saudi.
Mereka mempergunakan teknologi geo-tracking.
Lihat juga:Program 1.000 Startup Digital Mulai Kick Off |
Kemudian, dua profesional Pakistan berpasangan dengan dua mahasiswa Asia Timur mengembangkan aplikasi "tali virtual" guna menemukan kerabat yang hilang di lautan manusia dengan menggunakan gelang bluetooth.
Penyelenggara menyebut sekitar 3.000 programmer menghadiri hackathon tiga hari di Jeddah.
Empat pria Saudi berusaha mendesain sensor yang akan mengingatkan petugas kebersihan jika ada tempat sampah yang telah penuh, guna menghindari semua masalah kebersihan.
Lalu kelompok perempuan Saudi lainnya menuliskan algoritma dan kode pemrograman di papan tulis untuk merancang aplikasi guna membantu penutur nonbahasa Arab menerjemahkan instruksi ke dalam berbagai bahasa tanpa koneksi internet.
Kendati solusi yang ditawarkan para peserta masih belum teruji, kontes ini menawarkan hadiah uang tunai sekitar dua juta riyal atau sekitar Rp7,6 miliar.
"Kami bertujuan untuk meningkatkan pengalaman haji bagi semua jamaah dari seluruh dunia," kata Nouf al-Rakan, Kepala Eksekutif Federasi Saudi untuk Keamanan dan Pemrograman Cyber, yang menyelenggarakan acara tersebut. (agi)