Menyimpan cryptocurrency di perangkat elektronik, ibaratnya seperti membawa uang dalam dompet. Mata uang kripto yang tersimpan di aplikasi dompet kripto di perangkat pengguna memang rentan dicuri peretas.
Sebab, aplikasi tersebut terhubung ke internet. Terutama ketika peretas berhasil mendapatkan private key yang dipakai pengguna untuk bertransaksi. Private key adalah baris kode khusus yang dimiliki pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusho menjelaskan Hot Storage adalah media penyimpanan uang kripto yang terkoneksi dengan internet (online). Yusho menyebut Hot Storage ini nyaman tapi beresiko terhadap penyerangan peretas. Sementara Cold Storage adalah media penyimpanan yang bisa dilakukan tanpa terhubung dengan internet (offline).
Kebanyakan penyedia jasa uang kripto memang memecah aset nasabah ke dalam dua penyimpanan ini. Hal ini dilakukan untuk memberikan jaminan kepada nasabah. Jadi jika Hot Storage dibobol, maka masih ada aset nasabah yang tersisa di Cold Storage.
Lihat juga:Indonesia Lahan Basah Mata Uang Kripto |
Kendati demikian, Yusho mengatakan metode ini memang akan membuat nasabah agak kurang nyaman. Pasalnya setiap nasabah membutuhkan alamat dengan private key yang berbeda setiap ingin mengirimkan aset dari Hot Storage ke Cold Storage. Jadi nasabah memerlukan alamat baru untuk menerima transaksi aset tersebut.
"Memang tidak nyaman dibandingkan menggunakan Hot Storage keseluruhan. Kalau efisiensi memang agak lebih rumit karena ada proporsi pembagian ini. untuk keamanan memang lebih membantu," kata Yusho.
Lihat juga:Line Buat Jual Beli 'Cryptocurrency' |
Yusho mengatakan selain Hot Storage dan Cold Storage, perusahaan exchanger juga bisa menerapkan multi-signature wallet. Yushi menjelaskan multi-signature adalah digital wallet yang membutuhkan otorisasi lebih dari satu pengguna untuk transfer dana.
Penerobosan peretas, kata Yusho tidak hanya melalui perusahaan, tapi juga melalui nasabah. Apabila nasabah kurang mawas diri terhadap keamanan private key, maka aset juga bisa lenyap dicuri peretas.
"Keamanan itu ada dua jalur, jalur pertama dari perusahaan, Jalu kedua dari pengguna. Kalau perusahaan sudah siap tapi peretas menerobos dari pengguna ya percuma. Nasabah juga harus mawas diri ketika melakukan pertukaran, jangan sampai private key-nya hilang diretas," ujar Yusho. (eks)