"Contoh saat Tsunami Aceh, daerah yang paling rusak itu di pedalaman. Tapi suplai atau lgositik bantuan itu lebih banyak di tepi pantai. AI kami memungkinkan untuk melakukan inventaris di mana logistik yang harus disebarkan, yakni ke daerah yang paling membutuhkan yang membutuhkan," kata Wijaya ketika ditemui dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/9).
Selain untuk memprediksi bencana alam dan distribusi bantuan, menurut Wijaya kecerdasan buatan juga bisa memberikan informasi mengenai prediksi cuaca dan potensi bencana akibat perubahan atau cuaca ekstrim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wijaya juga mengatakan saat bencana alam, hal yang paling rumit adalah mencari sanak saudara di tengah-tengah kondisi bencana alam tersebut. Wijaya mengatakan AI yang tersambung dengan cloud bisa memudahkan pencarian ini karena data base terintegrasi.
Call For Codes mengajak pengembang untuk membuat aplikasi berbasis AI untuk persiapan menghadapi bencana alam. Misalnya pengembang bisa membuat aplikasi yang menggunakan data ramalan cuaca dan sistem informasi berantai untuk memperingatkan apotek lokal ketika diramalkan akan terjadi bencana berdasarkan data cuaca itu.
Peringatan ini akan membuat apotek bisa meningkatkan suplai obat-obatan, air dan keperluan logistik untuk menghadapi bencana. Aplikasi ini juga bisa membaca daerah mana yang terkena dampak paling besar sehingga bantuan logistik bisa tepat sasaran. (eks)