Deputi Kepala Grup Perencanaan dan Grup Komunikasi MMKSI Intan Vidiasari menyampaikan sampai saat ini sisa stok Mirage sekitar 200 unit. Intan memprediksi, stok itu bakal habis hingga dua bulan ke depan.
"Jadi Juli memang tidak ada lagi CBU (Completely Build Up) dari Thailand. Makanya kami lihat, karena pasarnya semakin mengecil," kata Intan di BSD, Tangerang akhir pekan lalu.
Lihat juga:Delica Pensiun, Mirage di Ujung Tanduk |
Keinginan Mitsubishi menyetop penjualan Mirage disadari setelah impor CBU dari Thailand dihentikan sejak Juli 2018. Mitsubishi menjelaskan belum memiliki rencana melanjutkan impor Mirage.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mirage pertama kali meluncur di Indonesia pada 2012, kemudian edisi penyegarannya muncul pada 2016. Usaha Mitsubishi menyegarkan Mirage tidak mampu mendongkrak penjualannya.
Dari tahun ke tahun, penjualan Mirage memburuk. Data wholesales Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukan pada Januari-Juni 2018 Mirage hanya laku 259 unit. Periode sama tahun sebelumnya, Mirage terjual 1.076 unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Harga LCGC 'Disunat' di GIIAS 2018 |
Tidak hanya itu, Intan mengira munculnya mobil Low Multi Purpose Vehicle (LMPV) yang dihargai 'murah meriah' seperti Wuling Confero juga membuat Mirage semakin sulit bergerak.
"Banyak persaingan, antara low MPV dan LCGC. Dua bulan ke depan, kalau pasar tidak membaik, ya kami tidak lanjutkan," ujarnya. Menurut Intan jika Mitsubishi kesampaian menghentikan penjualan Mirage, pihaknya mempunyai rencana mengalihkan calon konsumen Mirage untuk membeli Xpander. (fea)