Menurut studi Identity Theft Resource Center (ITRC) yang dilakukan Eset hingga Juli 2018 tercatat ada 668 kasus kejahatan siber dengan total kehilangan data mencapai 22.408.258 dari seluruh kategori. Dari semua kasus kejahatan siber, Yudhi mengatakan ransomware masih menjadi tren yang akan terus terjadi.
"Sejak 2012 hingga 2018 ransomware masih menjadi tren, karena pembuat virus bisa mendapatkan uang tebusan yang dibayarkan korban. Penyebarannya juga kerap disamarkan lewat surel atau data dokumen tertentu yang di dalamnya terselip virus," ungkap Yudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia menurutnya jadi salahs atu negara yang masih menganggap keamanan data sebagai hal yang tidak terlalu penting. Padahal, sejumlah bidang sangat berpotensi jadi sasaran serangan siber jika tak melakukan proteksi berlapis terhadap keamanan data.
Chrissie mengatakan potensi kebocoran data bukan hanya dari luar korporasi, namun juga ada faktor dari dalam seperti ada faktor ketidaksengajaan karyawan.
"Kasus zaman sekarang masih ada karena human error, seperti ada kesalahan SDM yang berpotensi membuat celah keluar," ujarnya. (evn)