"Sudah pasarnya di Indonesia, driver-nya [banyak] di Indonesia, investasi di Indonesia, [melakukan] akuisisi di Indonesia, kenapa sih nggak pindah headquarter-nya ke Indonesia? Jadi unicorn Indonesia," kata Rudiantara di acara peluncuran Grab Ventures di bilangan Thamrin, Jakarta pada Rabu (29/8).
Ia mengatakan saat ini Indonesia sangat terbuka terhadap bisnis-bisnis dari luar negeri yang memiliki nilai yang dapat dibagikan kepada Indonesia, alias yang bukan hanya sekadar mencari pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Betul, nanti ada permasalahan soal pajak, insentif, dan sebagainya tapi kan kita akan bantu. Pemerintah sekarang terbuka lho," ujar Rudiantara.
Menanggapi hal ini, Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan pihaknya menerima ajakan Rudiantara tersebut sebagai undangan yang baik, dan akan terus mengkaji kemungkinan itu.
Ridzki mengaku, Indonesia memang merupakan lahan yang sangat menjanjikan karena jumlah pasarnya yang sangat besar. Selain itu, ia pun menilai tingkat adopsi masyarakat Indonesia terhadap teknologi yang baru terhitung cukup tinggi.
Hingga saat ini, layanan Grab sendiri sudah tersebar di 137 kota di seluruh Indonesia. Grab juga mengklaim perusahaannya sebagai pemegang 65 persen pasar di Indonesia untuk industri ride-hailing. (eks)