Rupiah Melemah, Pendanaan e-Commerce Bertambah

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 07:24 WIB
Rupiah Melemah, Pendanaan e-Commerce Bertambah Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai pihak sedang mengalami dampak buruk karena melemahnya nilai tukar rupiah. Namun, ternyata berlaku sebaliknya untuk pelaku e-Commerce.

Ketua umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung menyebut menguatnya dolar AS ini memberikan dampak yang positif terhadap pendanaan. Pasalnya mayoritas investor e-commerce merupakan perusahaan asing.

"Jadi buat investor misalnya awalnya mengeluarkan X di sana jadi X. Sekarang saya keluarin X di sana jadi 1,25X karena kursnya. Ini positif dari sisi funding," ujar Ignatius di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, (6/9).


Tapi e-commerce pun tetap mendapatkan dampak negatif. Ignatius mengatakan banyak barang mulai dari produk jadi hingga komponen elektronik yang merupakan barang impor.

"Negatifnya, e-commerce menjual barang yang memang impor. Tapi jangan memberikan framing dengan hanya online yang melakukan. Pasalnya, ponsel saja impor bahannya. Semua otomatis akan naik karena belinya dari luar atau bahan baku dari luar," kata Ignatius.

Melemahnya nilai tukar rupiah dipastikan akan membuat harga barang impor mengalami penyesuaian harga. Kendati demikian, Ignatius memastikan konsumen tidak akan beralih ke barang lokal, terutama terkait barang elektronik.

Kalau harga naik masih masuk akal, Ignatius mengatakan konsumen Indonesia pasti akan tetap membeli. Bahkan harga baru ini secara bertahap bisa dianggap harga normal.

"Otomatis transaksi pasti akan terkoreksi terlebih dahulu meskipun pelajarannya selama naiknya tidak ekstrim harusnya orang Indonesia permisif. Lebih kalau ini normal yang baru ya tidak apa apa diteruskan," ujar Ignatius.

Ignatius menyebut konsumen di Indonesia bersifat pemaaf. Konsumen hanya keras protes di awal kenaikan harga saja, seterusnya konsumen akan beradaptasi kemudian akan kembali membeli.

"Kita itu konsumen pemaaf. Misalnya bbm naik, minggu pertama protes luar biasa. Pindah naik motor dan kendaraan umum. Bulan kedua balik lagi naik mobil padahal bbm belum turun. Butuh adaptasi iya. Awalnya turun dulu. Tapi karena butuh beli ya beli saja," ujar Ignatius. (age/age)