Insyafnya Para Pembalap Liar

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Sabtu, 08/09/2018 17:05 WIB
Insyafnya Para Pembalap Liar Ilustrasi. (Istockphoto/Prompilove)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusli masih ingat wujud dari sepeda motornya kala masih bergelut dengan dunia balap liar. Yamaha RX-King miliknya disulap demi menjadi nomor satu di jalanan.

Sebagian suku cadang dan aksesori dilepas agar tak mengganggu saat melepas di aspal. Ukuran pelek dibuat kecil, bodi yang tak perlu dicopot, spidometer pun dilucuti. Seluruh komponen yang tak perlu dibuang agar motor lebih enteng dan dapat 'ngacir' tanpa tertahan angin.

Menurut pria karib disapa Ucan itu, keberadaan spidometer hanya akan membuat mental sebagai joki balap hilang. Jadi tak ada alasan ingin tahu seberapa cepat motor bergerak.



Ucan kali pertama masuk dunia balap liar motor pada 2005, dan menjadi seorang mekanik yang siap membuat sepeda motor melesat kencang sebelum akhirnya menjadi joki -julukan pengendara motor balap liar- kepercayaan pemilik motor.

"Saya pertama itu menjadi mekanik, baru setelahnya memutuskan untuk jadi joki motor sendiri," kata Ucan saat ditemui CNNIndonesia.com di bengkel miliknya di kawasan Tapos, Depok, Jawa Barat.

Dunia balap liar malam, diakui Ucan adalah sebuah tantangan. Mulai dari meracik mesin agar menjadi yang tercepat hingga mengumpulkan nyali supaya tidak ciut saat mengendalikan liarnya kuda besi ketika motor mulai diadu.

"Jadi kalau balap ada kadang yang bikin sudah ketakutan duluan. Tapi ternyata kalau santai-santai saja, ya malah lawan yang kalah," ujar dia.

Ucan mengaku tidak selamanya menang dalam setiap balapan. Waktu terus berjalan, tak ada yang menghentikannya berkecimpung dalam dunia balap liar. Hingga akhirnya Ia memutuskan berhenti dari balap liar sekitar 8 tahun kemudian.

"Yah mungkin yang namanya judi, makanya saya berhenti pas anak udah umur satu tahun. Jadi joki emang tidak bikin kaya, yang bener ya begini mending punya usaha sendiri," kata Ucan yang sekarang memiliki usaha bengkel motor di Depok.

Tak Bermanfaat

Joki lain yang akhirnya insaf, yaitu Uta. Ia menyesal mengikuti dunia balap liar yang tidak bermanfaat untuk masa depan. Faktor keselamatan dirinya dan orang lain menjadi alasan ia setop dari aktivitas balap liar. Uta memilih pensiun dari joki sebelum maut menjemput.

Uta mengaku terjebak pada dunia balap liar karena tidak ada lokasi untuk menyalurkan hobi balapnya.

"Sebenarnya dulu tidak begitu suka dengan balap liar, cuma karena dulu tempat buat balapan resminya masih terlalu jauh dari rumah, jadi terpaksa balap liar," ungkap Uta yang kini bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

Balap liar bisa diartikan menantang maut. Tidak terhitung nyawa joki melayang akibat kecelakaan saat balapan ilegal.

Bukan untuk diikuti, karena sebagai besar joki tidak dilengkapi pelindung keselamatan pengendara motor. Pebalap dengan pakaian lengkap saja rentan terhadap cedera, apalagi tanpa pengaman yang lengkap.

Sebagai joki, Ucan pun akrab dengan kasarnya aspal saat motor yang dikemudikan tiba-tiba oleng dan terjatuh dalam kecepatan tinggi. Dua giginya rontok, bibir sobek dan beberapa bagian badannya dipenuhi luka.

"Saya memang tidak pernah pakai perlengkapan, hanya kaos celana pendek dan sendal jepit sama seperti yang lain. Tapi untung saya masih dikasih selamat," ungkap dia.

Bagi Ucan pemandangan kecelakaan hingga joki tewas di lokasi balap liar sudah menjadi biasa. Beberapa di antara yang tewas adalah teman akrab Ucan. (mik)