Di Kalimantan Barat, pada Agustus 2018 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memantau sebanyak 1.061 hotspot (titik panas).
Sebanyak 1.061 titik panas tersebut, terpantau oleh satelit Modis, yang terdiri dari kategori sedang 592 titik panas, dan kategori tinggi sebanyak 469 titik panas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulitnya memadamkan kebakaran di gambut karena meski api di permukaan tanah sudah padam, tapi bara di dalam tanah terus membakar gambut sehingga masih terus mengeluarkan asap. Asap karhutla ini yang kerap muncul menjadi kabut asap dan mengganggu aktivitas masyarakat serta menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan.
Selain kedalaman gambut yang cukup tebal sehingga sulit padam, sumber air di lahan gambut juga sulit ditemukan.
Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Gusti Hardiansyah mengatakan butuh dua tahun untuk meriset dan menciptakan alat tersebut.
Menurut dia, dibandingkan alat pemadaman lain yang manual, Nyapar merupakan alat digital yang dapat dikontrol dan didesain portabel sehingga lebih memudahkan untuk memadamkan titik kebakaran.
Nyapar dapat menyemprotkan air dengan jangkauan 30 hingga 50 meter dan semakin besar kekuatan mesin pendorong maka jangkauannya bisa semakin jauh.
Mesin pendorong juga portable sehingga bisa digendong di punggung seperti ransel dan bisa dibawa dengan motor sehingga memudahkan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses kendaraan roda empat.
"Kelebihan lainnya, Nyapar cukup dioperasikan satu operator," kata Gusti.
Untuk memastikan Nyapar bisa digunakan, maka akan dibuat juga 10 sumur bor sebagai sumber air. Kepala Desa Mandor, salah satu desa yang menjadi target kerja sama dalam perlindungan dan pengelolaan gambut berbasis masyarakat di Kalimantan Barat, Muria Yani Sadikun mengatakan, selama ini jika terjadi kebakaran gambut di desa mereka, maka pemadaman dilakukan secara manual.
"Kendala kita kebanyakan kebakaran yang terjadi jauh dari sumber air, jadi kita hanya bermodalkan tangki semprot atau ranting pohon yang dipukul-pukul untuk mematikan api," kata Muria Yani Sadikun.
Sebanyak 11 desa di tiga kabupaten yaitu Mempawah, Kubu Raya dan Landak dilibatkan dalam program tersebut. Selain itu masyarakat juga dilatih oleh Untan untuk membudidayakan madu kelulut sehingga menambah pendapatan mereka.
Dengan meningkatnya kesejahteraan, maka masyarakat tidak lagi berpikir untuk membakar hutan sehingga lingkungan juga tetap terjaga dan diharapkan kebakaran gambut juga tidak terjadi lagi. (age)