Nila, salah satu pemilik toko ponsel di ITC Kuningan mengaku cukup terkejut dengan penurunan ini. Dalam beberapa pekan terakhir, bisnisnya harus menelan penurunan penjualan yang cukup signifikan.
"Saya semalam baru liat hasil rekapitulasi grafik toko, hasilnya penjualan harian menurun 50 persen. Padahal biasanya ramai," ujar Nila kepada CNNIndonesia.com di tokonya Jumat (14/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lagi sepi tidak mungkin begini masa mau menaikkan harga. Mau tidak mau kami bertahan di harga stabil. Kalau harga ponsel naik, pendapatan kami akan berkurang agar harga ponsel stabil. Kalau harga naik ya otomatis begitu, tidak bisa naik harga cepat. Harus pelan-pelan menaikkannya," kata Nila.
Sebagai langkah antisipasi, Nila mengatakan pihaknya masih memasok barang-barang untuk memenuhi permintaan konsumen di tengah melemahnya nilai rupiah. Pasalnya dari distributor sendiri, harga ponsel juga belum mengalami kenaikan.
"Barang tetap ambil, stok tetap kita ambil dari pada barang kosong. Kita tetap penuhi permintaan pasar," ujarnya.
Penurunan penjualan yang lebih signifikan dialami oleh pemilik toko lain di ITC Kuningan, Noer. Noer mengatakan tokonya mengalami penurunan penjualan hingga 70 persen. Senada dengan Nila, ia juga mengatakan lemahnya nilai tukar rupiah belum menaikkan harga ponsel, tapi menurunkan daya beli konsumen.
Oleh karena itu, ia mengatakan dirinya mulai menjual melalui platform online. Ia mengakui bisa gulung tikar kalau hanya bergantung pada penjualan secara offline (toko).
"Biasanya kalau dolar naik, harga ponsel naik. Ini belum naik tapi daya beli konsumen turun. Penjualan bisa turun di angka 70 persen sehari-hari. Bisa mati kalau berjualan di toko saja," kata Noer. (evn)