Rudiantara menilai fitur fitur di Path sangat monoton, sehingga konsumen digital dipastikan akan bosan dan meninggalkan aplikasi tersebut.
"Namanya bisnis ada kompetisi. Butuh komitmen mengembangkan platoform berdasarkan user requirement. Biar bagaimanapun semua yang namanya messaging system, medsos, selalu mengikuti dinamika masyarakat maunya apa," ujar Rudiantara di Kantor Kemkominfo, Jakarta Pusat, Senin (17/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Path Resmi Tutup Oktober 2018 |
"Jalan paling cepat seperti FB, akuisisi startup media sosial yang berkaitan. Path ini sepertinya fiturnya tidak berubah. Jadi ditinggalkan masyarakat," ucapnya.
Pengguna Path memang memiliki 4 juta pengguna dan 80 persen di antaranya adalah pengguna aktif. Dengan jumlah ini, Indonesia menjadi nomor satu dengan jumlah terbesar.
"Path kan tadinya di luar negeri. Terus kemudian dipindahkan ke Indonesia karena pasar terbesarnya di Indonesia," imbuhnya.
Lihat juga:Langkah Simpan Kenangan Path Sebelum Tutup |
Setelah sempat mengantongi 23 juta pengguna hingga pada Februari 2011 Path sempat menolak tawaran akuisisi dari Google sebesar US$100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun. (evn)