Joint Typhoon Warning Center (JWTC) milik Amerika Serikat yang berlokasi di Hawaii sudah mulai memantau sebuah gangguan tropis di dekat garis batas penanggalan internasional pada Rabu (5/9) dua pekan lalu. Gangguan tersebut berkembang secara terus-menerus, dan dua hari kemudian (7/9) Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) menetapkan gangguan tersebut sebagai depresi tropis.
Dilaporkan Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA), depresi tropis terbentuk ketika sebuah area bertekanan rendah disertai oleh badai petir yang menghasilkan aliran angin berbentuk melingkar dengan kecepatan angin di bawah 63 km/jam. Depresi tropis akan menjadi badai tropis ketika sirkuliasi pusaran menjadi lebih teratur dan kecepatan angin melebihi 63 km/jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keesokan harinya (10/9), JTWC memperkirakan kekuatan Mangkhut sudah mencapai kategori 2 dengan kecepatan angin mencapai 165 km/jam. Kekuatannya terus bertambah dengan cepat, dan JWTC mencatat Mangkhut sudah mencapai intensitas puncaknya pada Rabu (12/9) dengan kecepatan angin 205 km/jam.
"Setiap wilayah yang terkena topan secara langsung akan merasakan dampak yang lebih signifikan karena ukuran dan intensitas topan super ini," katanya.
Badai yang berawal di Samudera Hindia dan Samudra Pasifik Selatan disebut sebagai siklon. Sedangkan, istilah topan digunakan ketika badai bermula di Samudera Pasifik Barat.
Berdasarkan kecepatan angin dan kekuatannya, topan dibagi ke dalam lima kategori berdasarkan skala Saffir-Simpson.
Dilansir dari Straits Times, topan Mangkhut termasuk dalam kategori lima yang mematikan. Mangkhut merupakan badai ke-15 yang menghajar Filipina tahun ini dan merupakan terbesar sepanjang tahun 2018.
Lihat juga:FOTO: Topan Mangkhut Membawa Maut |
Musibah yang sama juga menyebabkan lebih dari lima juta penduduk di Filipina bagian tengah harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggalnya. Hingga saat ini, Haiyan tercatat sebagai topan terkuat sepanjang sejarah dengan kecepatan angin mencapai 314 km/ jam.
Topan Mangkhut yang menghantam Filipina dilaporkan juga menerjang China dan Hong Kong pada Minggu (16/9) sore. Musibah tersebut menyebabkan gangguan layanan kereta dan jadwal penerbangan. Lebih dari dua juta orang harus dievakuasi dan tempat wisata serta situs kontraksi harus ditutup. (rbc/evn)